PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #2

BAB 1


PEREMPUAN itu menanggung malu sebelum dihantui rindu. Hari-harinya dipenuhi nestapa. Kakinya berpijak di atas beling-beling yang berserakan. Sakit, lagi berdarah-darah. Tidak ada yang bisa dia sesali. Apa yang terjadi adalah proses dari keputusan yang sudah dia tekadkan bulat-bulat: melarikan diri, melawan keluarganya sendiri. Dia meninggalkan rumah dengan kondisi kepalanya dipenuhi nyala api yang membara, berkobar-kobar membakar kewarasan. Dia pergi bersama kekasihnya yang tak disenangi orang rumah, lalu pulang-pulang membawa bayi yang mengejutkan semua orang. Keluarga, pun para tetangga. Dosa besarlah perempuan itu, melahirkan tanpa adanya status pernikahan. Dia melukai hati keluarganya di hadapan banyak orang. Karma seakan menyelimuti perempuan itu atas dosa-dosa yang sudah dia jemput dengan berbangga hati. Semua yang dia tabur, kini telah dia tuai dengan sendirinya.

Adalah Mala. Perempuan berambut pendek sebahu. Matanya sipit, mengenakan kacamata minus. Dulunya, saat kecil hingga tumbuh remaja, dia dikenal sebagai anak yang pemalu. Dia rajin bekerja, membiayai adiknya yang bungsu, merawat keluarganya yang sudah lama tidak utuh. Dia perempuan polos nan lugu. Namun, siapa sangka di balik wajah tanpa dosa itu, ada kesulitan yang begitu menyiksa dirinya. Kesulitan yang dijemputnya sendiri sejak dibutai cinta seorang lelaki yang dikenalnya dari tempat dia bekerja. Hidupnya yang dulu sudah penuh liku-liku kini semakin bertalu-talu. Luka-luka itu dipungutnya dengan sadar diri, sedang sakit yang dia rasa kini sudah membuatnya seperti mati berdiri.

Mala seperti orang yang tidak tahu arah jalan pulang. Dia tersesat di tengah hidupnya yang dirundung kemalangan.

Setelah penolakan demi penolakan yang Mala dapat dari keluarganya, dia hidup bertiga bersama anak dan suami setelah dengan terpaksa keluarga memilih menikahkan mereka untuk kepentingan hidup anaknya di hari mendatang. Baik betul keluarganya, setelah apa yang sudah dia lakukan, mereka masih memikirkan perkara bagaimana dia melanjutkan hidupnya di hari mendatang. Nahas sekali, impian perempuan itu untuk hidup bahagia tak sesuai perkiraan. Hari-harinya diselimuti pilu yang berakar. Lelaki yang dia bela mati-matian di hadapan keluarga ternyata benar-benar seperti orang yang kehilangan akal. Lelaki itu tak memiliki pekerjaan tetap, tak ada usaha pula mendapatkan uang untuk membiayai Mala dan sang buah hati yang baru berusia dua bulan. Lelaki itu hidup seenak jidatnya: makan tak makan, pulang tak pulang. Dia tak pernah sekali-kali memikirkan anak dan istrinya. Dia menjalani hidup seperti bujang yang tak punya beban. Persetan!

Hidup Mala betul-betul tersungkur atas nama cinta. Padahal, dia adalah satu-satunya harapan di keluarganya. Mala memegang kepercayaan yang begitu besar dari Romlah yang sudah mati. Ibunya itu percaya kalau dia bisa membanggakan keluarga, pun mengangkat derajat keluarganya. Tetapi ternyata dia malah membikin malu satu keluarga, yang lantas membuat mereka membenci perempuan itu.

Beruntung masih ada Ali yang sudi menurunkan ego dan membantunya. Sedangkan keluarganya yang lain benar-benar sudah tidak menganggapnya ada.

Lihat selengkapnya