RUSLI berjalan tergopoh-gopoh ke dalam kamarnya. Sekonyong-konyong dia limbung tak berdaya. Tangisnya terus-terusan pecah. Dia dihantui bayang-bayang penyesalan. Setelah Ali pergi meninggalkan dirinya sendirian di rumah, Rusli benar-benar merasa frustrasi. Dia teguk lima botol bir sampai tandas tak tersisa. Dia pikir dengan tubuhnya yang sudah bermandikan alkohol, bisa membuat ingatannya tidak lagi tertuju barang sejenak mengenai sosok Mala. Tetapi ternyata dia salah. Ingatan itu masih terus menghantamnya tanpa henti.
Rusli tidak tahu mengapa dia bisa melakukan hal tersebut. Berkali-kali dia merutuki dirinya, berkali-kali juga lelaki berbadan tinggi itu menyesali apa yang telah dia perbuat ke adik perempuannya yang sudah mati.
Rusli pikir, uang bisa mengantarkannya pada kebahagiaan. Dia keliru, bahagia tidak semudah itu. Dia diguyuri penyesalan yang tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
“BAJINGAN!”
Rusli berteriak histeris. Asbak kaca yang ada di dekatnya diambil lalu dilemparnya begitu saja hingga pecah berserakan. Dia tidak tahu hidup seperti apa yang dijalaninya. Setelah Mala meninggal, harusnya tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Seperti apa yang dulu spontan keluar dari mulutnya, bahwa hidupnya akan jauh lebih baik tanpa keluarga. Setelah Romlah tiada, dia berharap Mala pun menjemput kematiannya. Segila itu hidup tenang yang dia maksud.
Sebuah panggilan telepon yang terus berdering, teriakan yang sangat keras, tangisan yang membabi buta, bunyi ban yang berdecit ....