PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #8

BAB 7


BACHTIAR duduk termenung di balai-balai depan rumahnya. Sepi betul hidupnya. Setelah Romlah meninggal, dia terlunta-lunta mencari jalan. Seli tinggal bersama suaminya setelah menikah, Ali memilih meninggalkan rumah dan menempati kos di dekat tempatnya bekerja, sedang Rusli tinggal di perumahannya—meski sebenarnya lelaki itu sudah sangat lama meninggalkan rumah lantaran tidak begitu dekat dengan sosok bapak sambungnya itu. Bachtiar merutuki mengapa dulu dia dan Romlah tidak bisa mempertahankan keharmonisan keluarganya itu.

Hidup Bachtiar hanya bergantung pada Ali. Setiap minggu sekali, anak bungsunya itu selalu berkunjung, mendatangi dan melihat kondisinya. Membawa makanan sekali-kali, juga memberi beberapa lembar uang untuk disimpan dan membeli rokok keretek andalannya. Isi kulkas tua satu pintu yang ada di rumah akan diisi Ali dengan penuh. Sedang kopi dan gula sudah disediakan Ali setiap dia datang ke rumah yang dipenuhi dengan kenangan itu.

Bachtiar tidak lagi bekerja. Tidak ada pula yang bisa dia lakukan. Tubuhnya sewaktu-waktu merasa sakit, barangkali karena usianya sudah tidak lagi muda. Maka hiduplah dia di rumah seorang diri. Dia habiskan masa-masa senjanya dalam kesepian. Anak-anak yang dulu memeriahkan rumah, kini sudah jarang sekali terdengar.

Seperti malam-malam sebelumnya, selepas bakda Magrib, Bachtiar merenungi sesuatu yang menelisik hatinya belakangan ini. Sesuatu yang dulu sempat dia dengar dari khotbah masjid di lorong sebelah rumahnya.

Katanya, selepas kematian, orang-orang yang menangisi kepergian kerabat akan tetap hidup berjalan dengan semestinya. Teman-teman masih bisa tertawa, rekan kerja akan tetap kembali pada aktivitasnya, dan keluarga pelan-pelan melupakan kesedihannya meski butuh waktu yang cukup lama. Dan orang yang sudah mati tetap melanjutkan hidup yang sebenarnya seorang diri. Di dalam kuburan yang sempit, gelap, dan sepi. Kalimat itulah yang membuat Bachtiar tidak tenang sampai detik ini.

Bachtiar takut jika nanti dia berpulang, dia akan menghadapi kehidupan sebenarnya. Di sisa-sisa umurnya saja yang sekarang, merasakan kesepian adalah sesuatu yang paling tidak dia senangi. Dia benci hidupnya yang berteman sepi. Lelaki itu rindu akan hangatnya keluarga. Besar harapan Bachtiar agar anak-anaknya itu kembali, menetap di rumah, dan menemani di masa-masa tuanya itu. Namun, Bachtiar kini tak lagi berani menuntut. Dia turunkan egonya. Dia matikan semua kemauannya. Dia tidak seperti dulu lagi yang selalu dibakar amarah yang menggantung di kepalanya. Terakhir kali dia melakukan itu ketika tiga hari setelah Mala meninggal.

Keluarga yang begitu harmonis itu perlahan-lahan menjadi asing sejak kematian Romlah. Ketika penyambung antara dirinya dengan Rusli dan Mala meninggal, Bachtiar benar-benar kehilangan satu per satu kebahagiaannya. Bachtiar kini hidup sebatang kara di rumah di mana ari-ari Seli dan Ali ditanam.

“Bapak kenapa duduk di luar? Ayo masuk, banyak nyamuk di sini, Pak.”

Suara Ali membuyarkan lamunan Bachtiar malam ini. Senyum merekah spontan terlukis, membuat kedua ujung sudut bibirnya melengkung ke atas. Diperhatikan lagi anak bungsunya itu yang tampak kelelahan. Bachtiar langsung bisa menebak kalau Ali baru saja pulang bekerja karena pakaian kerja yang dikenakannya malam ini masih setia menutupi tubuh kurus anaknya.

Lihat selengkapnya