BANYAK orang bilang bahwa tidak ada yang lebih indah dari hubungan yang berakhir di pelaminan. Menjalani hari-hari dengan pasangan: makan bersama, tidur bersama, bertukar pikiran bersama. Tetapi bagi Ali, pernikahan adalah sesuatu hal yang paling menyeramkan dalam hidupnya. Dia meyakini bahwa menikah bukanlah akhir dari sebuah hubungan, melainkan hanya tahap berikutnya setelah perkenalan yang sudah terjalin. Menurutnya, masih ada akhir yang sesungguhnya: bercerai misalnya.
Seseorang yang saling mencintai bisa sewaktu-waktu berpisah lalu menjadi asing. Menjadi orang yang tidak peduli satu sama lain. Bahkan hubungan yang didasari dengan cinta pun tidak bisa menjadi penyangga status pernikahan. Cinta yang dimiliki seseorang tidak akan menjamin kokohnya sebuah hubungan. Cinta hanyalah sebuah rasa yang akan terus berkembang di tengah hidup yang tidak dipenuhi masalah. Yang tidak berkutat pada hal-hal yang menjadi asap munculnya pertengakaran. Jika yang terjadi sebaliknya, cinta perlahan-lahan akan memudar, diganti dengan isi kepala yang dipenuhi rasa benci, kemudian saling pergi.
Bukan tanpa alasan mengapa Ali berpikir demikian. Di kepalanya, dia selalu mengingat bagaimana bapak dan ibunya memilih mengesampingkan rasa cinta mereka setelah dihadapkan dengan kondisi perekonomian yang tidak stabil. Dari kecil dia selalu dicekoki pertengkaran-pertengkaran yang tidak ada habisnya dari sepasang suami istri yang batas kesabarannya sudah mencapai limit.
Semuanya berawal semenjak usaha Bachtiar pailit. Satu bulan setelah hidup mereka terjun bebas, amarah orang tua Ali selalu saja lepas. Membara. Bahkan sampai memecahkan beberapa piring dan gelas. Teriakan-teriakan mereka memenuhi seisi rumah. Tidak ada yang bisa mengontrol keduanya. Anak-anak mereka memilih keluar sebentar dari rumah, hanya untuk menenangkan diri mereka barang sejenak.
Waktu itu, Ali belum paham sepenuhnya mengapa Bachtiar dan Romlah menjadi seseorang yang saling membenci satu sama lain. Yang dia tahu pada saat itu uang adalah jembatan yang mengantarkan seseorang dalam batas ketenangan dan kesengsaraan. Dulu, baginya dengan memiliki banyak uang semua hal bisa dibeli: kebahagiaan, jalinan keluarga, atau apa pun itu. Tidak ada uang berarti siap untuk kemungkinan terburuk.