PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #11

BAB 10


PEREMPUAN itu meratapi nasibnya sendirian. Dia menangis sembunyi-sembunyi di dini hari saat keluarganya sudah terlelap menutup hari. Perempuan itu ketakutan dalam kesalahan yang tidak bisa dia utarakan. Pikirannya terus saja berkelindan dalam rentetan kemungkinan. Dia tak bisa menjalani hari dengan tenang. Mala yang malang. Perempuan itu kini tak bisa tidur lantaran memikirkan apa yang akan terjadi di hari mendatang.

Sudah satu minggu Usman tidak mau menemuinya. Tidak pula mau duduk bersama untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan di antara keduanya. Masalahnya adalah apa yang terjadi pada sepasang kekasih itu bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan sesuatu yang membahana.

Sudah jauh-jauh hari Mala disuruh untuk memikirkan baik-baik hubungannya bersama Usman oleh pihak keluarga, tetapi perempuan itu tetap mantap dengan pilihannya. Dia benar-benar dibutai akan cinta sebelum pada akhirnya menyesali keputusannya setelah terkatung-katung menanggung sakit.

Selimut tipis menutupi tubuhnya. Tangisnya terus-terusan pecah. Mala tak pernah menyangka dia bisa berada di situasi paling rumit dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun menghadapi peliknya masalah keluarga, setelah kerikil demi kerikil bisa dia lalui dengan tabah, dia akhirnya berada pada titik rapuhnya. Perempuan itu memeluk luka-lukanya dengan air mata.

Mala memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya barang sejenak. Dia benar-benar seorang diri. Dia tak berani bercerita pada siapa pun.

“Ampuni aku, Tuhan ....” Mala menangis lirih. Tak ada yang bisa dia lakukan selain mengadu kepada Tuhan atas dosa-dosa yang dia lakukan dengan sadar diri. Jalan yang dia tempuh terlampau jauh sampai-sampai kehilangan jati diri. Mala melupakan pedoman-pedoman kebaikan yang selalu diajarkan oleh guru mengajinya sewaktu kecil, yang selalu dia bagikan kepada Romlah dan Rusli. Sebab, saat dia kecil, Romlah sama sekali tak paham agama, pun tak terlalu pandai dalam pelajaran lantaran ibunya itu tak pernah menyicip rasanya bangku sekolah. Waktu itu, Mala sebisa mungkin belajar dengan giat, mengaji dengan rajin di langgar, dan membagi ilmu yang dia dapat itu ke ibunya.

“Bu, maafkan Mala. Maafkan Mala, Bu ....”

Tangisan Mala kian deras. Berkali-kali dia mengucap maaf kepada Tuhan, kepada sang ibu, pun kepada dirinya sendiri. Samar-samar ingatannya tertuju kepada mendiang ibunya. Mala teringat bagaimana dia, Rusli, dan Romlah hidup bertiga di kampung sebelum bepergian ke kota. Ingatannya bergelantungan akan satu sosok perempuan yang dirindukannya selalu. Romlah seperti hadir di mimpi perempuan yang tengah berbadan dua itu ....

***

ROMLAH muntab. Perempuan bertubuh ringkih itu mengomel sendiri di dalam kamar kecilnya. Sudah dua hari, Bakri, sang suami, meninggal dunia setelah beberapa bulan terakhir sakit-sakitan. Kemarahan Romlah malam ini tak seberapa jika dibandingkan saat hari pemakaman Bakri. Dia murka di hadapan foto sang suami. Lebih tepatnya muak dengan kepergian sang suami yang meninggalkan dia beserta kedua anaknya: Rusli dan Mala.

Romlah dan Bakri hidup dalam kesederhanaan. Di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak sebelas tahun, keduanya bergulat pada kemiskinan yang tak pernah hilang. Barangkali itu yang membuat Romlah marah besar, lantas beberapa kali—semenjak kematian sang suami—menyalahkan takdir yang sudah menjadi ketetapan Sang Pencipta. Bakri meninggalkan Romlah bersama kedua anak yang masih butuh sosok seorang bapak. Apalagi kedua anaknya itu masihlah kecil. Rusli masih berusia sepuluh tahun, sedang Mala masih berumur sembilan tahun. Romlah tidak pernah menyangka bahwa Bakri pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Jika hidup bersama Bakri saja dia masih kewalahan, bagaimana bisa dia menghidupi Rusli dan Mala sendirian. Dia benar-benar merutuki takdir yang Tuhan berikan dalam hidupnya.

Lihat selengkapnya