PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #12

BAB 11



KETIKA kecil Rusli tidak banyak merasakan bagaimana kasih sayang seorang bapak. Tapi dia ingat bagaimana mendiang bapaknya menggendongi tubuh kurusnya ketika dia ketiduran mengerjakan PR di ruang tengah. Dia ingat bagaimana bapaknya memberikan petuah saat sang ibu memarahinya lantaran kenakalan yang wajar dilakukan oleh anak kecil. Dia ingat bagaimana bapaknya selalu berhasil menenangkan dirinya ketika dia pulang-pulang dari sekolah dan menangis lantaran teman-temannya mengolok-olok dirinya yang tak punya mainan. Deretan ingatan bersama bapaknya itu memanglah tampak samar-samar. Tak banyak kenangan yang dia dapat dari mendiang bapaknya itu. Meskipun begitu, Rusli benar-benar merasa kehilangan ketika bapaknya diambil oleh Tuhan. Dunia Rusli runtuh seketika, dia kehilangan laki-laki yang begitu pekerja keras demi anak dan istrinya.

Waktu itu, Rusli masih berumur sepuluh tahun. Dia masih butuh figure seorang bapak, tetapi Tuhan malah mengambilnya lebih awal. Dia sempat membenci Tuhan, menganggap apa yang terjadi dengan dirinya tidaklah adil untuk dilalui seorang anak seperti dirinya. Kebenciannya itu makin bertambah setiap hari tatkala semuanya seakan tidak bisa diatasi lagi. Dia benar-benar menganggap Tuhan tidak adil kepada umat-Nya.

Sejak kematian bapaknya, Rusli menjadi sosok yang lebih senang menyendiri. Ketika Romlah dan Mala selalu mengobrol selepas adiknya itu pulang dari surau, dia memilih untuk masuk ke kamar, lalu memaksa matanya untuk tertutup. Rusli menyayangi Romlah dan Mala, tetapi menjadi satu-satunya laki-laki di keluarganya membuatnya tidak bergairah. Maka dengan alasan itulah mengapa dia lebih senang menghabiskan waktunya di luar rumah, sekadar bermain bersama teman-teman sebayanya sampai larut atau mencari tempat di mana dia bisa tenang seorang diri. Sendirian.

Bagi Rusli, hidup tanpa kepala keluarga adalah jalan yang dilaluinya tanpa peta, tanpa arah yang jelas. Dia tak pernah tahu bagaimana rasanya dibanggakan atas apa yang sudah dia lakukan. Nilai-nilai yang awalnya bagus perlahan-lahan menurun lantaran dia tak pernah dapat pujian dari orang tua seperti yang diceritakan teman-temannya. Dari situlah, Rusli menjelma menjadi seseorang yang tidak mau terlalu memikirkan sesuatu yang membuat kepalanya nyaris pecah. Dia pergi ke sekolah hanya sebatas untuk menggugurkan kewajibannya sebagai pelajar, pulang ke rumah dan membantu ibunya pun lantaran kewajibannya menjadi seorang anak.

Lihat selengkapnya