PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #15

BAB 14


SETELAH hari-hari panjang yang dia lewati, hidup Ali laksana gurun pasir yang gersang. Luas, panas, dan keras. Ali mencoba melupakan luka yang terus bersarang di hatinya, tetapi dia selalu gagal. Lelaki itu tidak pernah menyangka bahwa selama perjalanan hidupnya, dia tak pernah merasa bahagia selalu mengiringi setiap langkahnya dalam waktu yang lama. Bahagia-bahagia hanya muncul sekelabatan, yang bahkan Ali sendiri kadang dibuat bingung mengapa hal itu hanya hadir secepat kilat. Rasanya mendapatkan kebahagiaan dengan jangka yang lama benar-benar tidak ada di kamus hidupnya. Dia harus bergelut dengan luka-luka yang tidak tahu kapan akan berakhir. Dan belakangan ini, luka-luka itu semakin menggunung ketika kematian Mala malah menambah deretan sakit di hidupnya.

Malam ini, Ali keluar bersama Zaki ke Pantai Losari. Mengajak keponakannya itu menikmati suasana malam di ikon kota Makassar itu. Momen bersama Zaki malam ini selalu melemparnya pada kenangannya bersama Mala. Ali beberapa kali datang ke sana bersama kakaknya itu.

Suatu hari di pertengahan tahun, Ali dan Mala mengunjungi Pantai Losari. Berdua. Setelah dihantam luka-luka, Mala mengajak Ali untuk mngobrol. Memberi tahu adik lelakinya itu sesuatu yang dia takutkan dalam hidup. Tentang Usman yang tidak mau bertanggung jawab, tentang kehamilannya yang meski Ali sudah tahu sejak dia mendapati tangisan Mala saat dia pulang bekerja di dini hari.

Waktu itu, angin pantai tak mampu mendinginkan hati Ali. Dia benar-benar tersulut emosinya, menyuruh Mala untuk membawanya menemui kekasihnya yang pengecut. Awalnya Mala menolak, mencoba menenangkan Ali bahwa dia bisa melalui semuanya tanpa bantuan siapa pun. Mala memberitahu Ali bahwa kedatangannya di Pantai Losari hanya agar supaya dia bisa membuang beban yang ada di pundaknya sebentar saja. Namun, Ali tetap saja dirundung emosi yang sangat besar, dia tetap meminta Mala untuk membawanya menemui Usman. Cukup lama Mala mengiyakan, sebelum pada akhirnya dia mendatangi kos Usman bersama Ali. Padahal hujan tiba-tiba turun sangat deras. Keduanya menerobos jalan raya yang licin hanya untuk menemui kekasih Mala yang pengecut itu.

Sudah jauh-jauh hari Ali selalu mewanti-wanti Mala mengenai Usman. Dari penglihatan Ali, memang ada yang tidak beres dengan lelaki itu. Keyakinan Ali bertambah saat dia sudah mulai bekerja. Orang-orang yang ditemui Ali mulai beragam. Bukan lagi sekadar anak sekolah, tetapi lebih dari bocah-bocah ingusan.

Waktu itu, sesampainya dia di lokasi, amarah Ali masih kokoh bergelantungan. Dia mengetuk-ngetuk pintu kos Usman dengan keras. Beberapa penghuni kamar yang lain sampai menengok keluar lantaran teriakan Ali yang meggelegar. Suara derasnya hujan bercampur dengan teriakan Ali yang membabi buta. Mala berkali-kali menenangkan adiknya itu, memohon agar suara Ali lebih dikecilkan lagi agar tidak mengganggu penghuni kos lainnya. Tapi Ali benar-benar tidak bisa lagi mengontrol dirinya, dia harus bertemu dengan Usman. Menemui lelaki yang sudah menghancurkan masa depan kakaknya.

Lihat selengkapnya