PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #14

BAB 13


SEPERTI malam-malam sebelumnya, Bachtiar duduk sendirian di ruang tengah rumahnya. Lelaki yang sudah tampak tak sehat itu lagi-lagi merenungi kehidupannya setelah waktu sudah memakan habis sebagian usianya. Bachtiar tidak tahu apa boleh seorang kepala keluarga terlihat lemah sewaktu-waktu. Apa dia bisa mengeluhkan seisi kepalanya itu pada anak-anaknya? Mengapa banyak orang bilang, sebagai seorang lelaki, terlebih sebagai kepala keluarga, mereka harus siap menanggung masalah seorang diri.

Dari dulu, setelah usahanya pailit, Bachtiar sebisa mungkin mengatasi permasalahannya itu seorang diri. Romlah yang dia harap jadi sosok yang mengerti keadaannya malah berlaku sebaliknya, perempuan itu berubah menjadi seseorang yang emosinya naik turun. Tapi, dia tak mau menyalahkan Romlah seutuhnya. Dia tahu, Romlah bersikap begitu karena dia punya harapan lebih terhadap dirinya.

Setelah ditinggal suami sebelumnya lalu hidup bertiga dengan Rusli dan Mala, perempuan itu hidup dengan serba kekurangan. Barangkali karena itulah, Romlah berharap banyak dari lelaki yang datang di hidupnya setelah kematian Bakri. Perempuan itu mengira hidupnya akan terus membaik setelah melalui jalan terjal sebelumnya. Tapi ternyata perempuan itu keliru. Dia lupa, tidak ada yang tahu perkara takdir yang akan dilalui manusia ke depannya. Dan karena terlalu meninggikan ekspetasi, Romlah seperti dijatuhkan ke dasar laut lantaran hidupnya bersama Bachtiar tidak berjalan sesuai yang dia bayangkan.

Bachtiar sendiri juga tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sekusut itu. Di masa-masa tuanya, dia harus bergelut dengan kesendirian yang memeluknya erat-erat. Tidak sedikit pun dia membayangkan anak-anaknya pergi meninggalkan rumah dan membuat dia kesepian. Setelah apa yang dia lewati, Bachtiar kadang merutuki nasibnya dengan deretan pertanyaan perihal mengapa Tuhan menjauhkan dirinya dari anak-anaknya. Setelah apa yang dia usahakan untuk kelangsungan anak-anaknya, dia kini seakan diasingkan dalam rumah sendirian.

Kadang Bachtiar berdoa agar Tuhan mempertemukan dirinya saja dengan Romlah di atas sana, secepatnya. Tetapi, tidak lama dari doa-doanya itu dipanjatkan, dia beristigfar berkali-kali, memohon ampun atas ucapannya yang sudah melewati batas. Dia lupa, Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umat-Nya. Namun, lagi-lagi Bachtiar hanyalah manusia biasa. Yang kadang bisa berada di titik terapuh dalam hidupnya.

Lihat selengkapnya