PEREMPUAN YANG MELINTASI WAKTU DENGAN LUKA

Aldi A.
Chapter #24

BAB 23


SETELAH menimbang-nimbang semuanya, Ali memutuskan untuk menemui Rusli. Barangkali salah satu cara agar luka-luka ditinggal orang tersayang bisa Ali redakan dalam hidupnya dengan menyelesaikan apa yang masih menjadi tanda tanya di kepalanya.

Ada sesuatu hal yang ingin Ali selesaikan dengan Rusli. Apa pun nanti yang akan terjadi di antara keduanya setelah pembahasan mereka malam ini, Ali tidak mau ambil pusing. Baginya, dia hanya ingin mencari jawaban dari sesuatu hal mengganjal dalam kematian Mala. Dan pertanyaan itu hanya bisa terjawab dari Rusli.

“Ada urusan apa kau ke sini?”

“Kau pernah bertanya apa yang Mala ceritakan padaku semasa hidupnya kan?”

Rusli diam. Dia menelan ludah sekali dua kali.

“Aku tahu soal itu!”

Mata Rusli membesar. Dia akhirnya bertemu juga dengan hari ini. Setelah Mala meninggal, dia selalu menantikan kapan semuanya akan terkuak. Bagaimana pun juga, dia tak akan bisa menutupi semua itu seumur hidupnya. Itu tidak mungkin terjadi. Buktinya, baru dua bulan saja setelah kematian Mala, hidupnya dirundung ketakutan mengenai apa yang selama ini dia sembunyikan.

Sebenarnya Rusli sudah curiga kalau Ali pasti sudah tahu rahasianya setelah pertengkaran hebat yang terjadi pada malam takziah ketiga kematian Mala. Tapi, lelaki bermata elang itu tidak mau membeberkan secara langsung, dia menunggu Ali mengatakan sebenarnya. Dan malam ini, Ali datang untuk itu semua.

“Sudah lama aku tahu semua itu. Mala menceritakan saat dia mendatangi kosku di pagi buta sekali. Mala kelaparan, dia menangis lantaran diperlakukan tidak baik oleh Usman.” Ali berhenti sejenak. Dia menarik napasnya dalam-dalam. Entah berapa banyak tarikan napas panjang yang dia lakukan belakangan ini, rasanya benar-benar sesak memenuhi dadanya. “Kau beruntung karena Mala masih menahanku untuk memukulimu. Aku ingat bagaimana kau mengata-ngatai Mala sebagai alasan yang membuat keluarga kita malu. Tapi kenapa kau tidak pernah melihat dirimu di depan cermin? Kenapa kau tidak fokus dengan dosa-dosamu saja? Mengapa sulit untuk melihat diri sendiri terlebih dahulu sebelum melihat orang lain? Apa kau melakukan itu semua demi menutupi kebusukan yang sudah kau lakukan?”

Rusli hanya diam mematung. Pandangannya mengarah ke bawah, ke lantai rumahnya. Dia tentu saja malu melihat wajah Ali sekarang. Rusli malu atas apa yang sudah dia lakukan di masa lalu. Malam ini, Ali seperti melempar kotoran hewan di wajah Rusli.

Lihat selengkapnya