PEREMPUAN YANG MEMATIKAN CAHAYANYA

Lilian Arisianti
Chapter #1

Lampu yang selalu menyalah

"Perempuan tidak akan pernah bisa tumbuh jika dibenturkan dengan pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier."

Kalimat itu muncul begitu saja di kepala Stela pagi itu. 

Ia berdiri di dapur kecil apartemen mereka, memegang sendok kayu yang sudah mulai menghitam ujungnya. Mengaduk-aduk sop yang mulai mendidih perlahan, dan mengeluarkan uap tipis yang membuat kaca jendelanya berembun.

"Bahwa perempuan bisa menjalani keduanya terdengar seperti janji yang indah. Tapi sering kali, itu hanya mudah diucapkan oleh mereka yang tidak harus menanggung semuanya sendirian."

Kalimat lain muncul begitu saja tanpa diundang. Pikirannya mulai kacau. Ia menghirup napas panjang. Meniup sup di sendok, mencicipinya, lalu menambahkan sejumput garam.

Di ruang tengah terdengar suara kartun televisi. 

"Maamaa!" Suara kecil nan manja itu memangil. Stela sadar dan tersenyum.

"Mama di sini, Rachel."

Rachel berlari ke dapur dengan kaos bergambar kelinci berwarna biru. Rambutnya masih berantakan, dan ada bekas bantal di pipinya. 

"Rachel lapar."

Stela tertawa kecil. 

"Baru bangun sudah lapar, sayang?"

Ia mengangkat tubuh kecilnya dan mendudukannya di kursi makan. 

"Sebentar ya, supnya hampir jadi."

Di luar jendela, kota sudah hidup sejak lama. Deretan mobil bergerak perlahan di jalan raya yang terlihat seperti pita abu-abu panjang dari ketinggian apartemen mereka. Gedung-gedung kaca memantulkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya hangat. 

Kota ini selalu bergerak cepat. Kadang malah terlalu cepat.

"Ma. Papa sudah pergi?" Rachel bertanya sambil memainkan sendoknya. 

Stela mengangguk.

"Papa berangkat pagi sekali hari ini."

Rachel cemberut.

"Rachel mau sarapan sama Papa."

Stela mengusap rambut anaknya. 

"Besok ya, sayang."

Padahal ia sendiri tahu jika kemungkinan itu sangatlah kecil. 

Nino hampir selalu berangkat sebelum Rachel bangun. Dan seringkali pulang sesudah Rachel tidur. 

Pintu apartemen terbuka sekitar pukul tujuh pagi tadi. 

Stela masih setengah mengantuk ketika Nino berjalan keluar kamar dengan kemeja yang belum sepebuhnya rapi. 

"Bangun juga?" Kata Nino sambil menenteng tas kerjanya.

Stela hanya mengangguk sambil mengikat rambutnya. 

"Rachel belum bangun?"

"Belum."

Lihat selengkapnya