Waktu mulai menarik malam dengan perlahan. Lampu-lampu mulai menyala satu persatu, seperti napas yang dihidupkan kembali setelah lelah bekerja seharian. Dari jendela apartemen di lantai dua belas, Stela memandang garis panjang kendaraan yang merayap di jalan raya. Cahaya merah dan putih yang bergerak pelan, terlihat seperti aliran yang tak pernah benar-benar berhenti.
Rachel tidur sejak satu jam yang lalu. Anak itu tertidur dengan memeluk bantal kecil di tangannya. Rambut yang berantakan juga terurai panjang menutupi sebagaian wajahnya. Menatap Rachel tidur seolah menatap lukisan alam yang membuat perasaannya menjadi hangat. Stela sempat duduk di sisi tempat tidur beberap menit sebelum akhirnya keluar kamar dan menutup pintu perlahan.
Apartemen itu kembali sunyi.
Stela berjalan ke dapur dan menuangkan air hangat ke dalam cangkir. Ia sebenarnya tidak haus, tetapi ia perlu melakukan sesuatu dengan tangannya. Jam dinding menuju angka sembilan.
Tidak ada pesan baru dari Nino.
Stela meletakkan ponsel itu kembali dan berjalan ke ruang tamu. Telivisi menyala tanpa suara, menampilkan berita tentang kemacetan kota yang semakin parah setiap minggunya. Kemarin menyoroti jalan tol yang dipenuhi dengan kendaraan, sementara seorang reporter menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak benar-benar didengarkan Stela.
Ia duduk bersila menatap layar telivisi.
Di luar jendela, kota masih hidup.
Beberapa tahun lalu, sebelum Rachel lahir, malam seperti ini terasa berbeda. Stela dan Nino sering keluar bersama setelah makan malam. Kadang hanya berjalan-jalan menikmati angin, kadang menonton film, kadang juga bertemu teman-teman berbicara panjang lebar hingga dini hari.
Malam-malam itu terasa ringan.
Sekarang semuanya menjadi lebih tenang.
Bahkan sangat tenang.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Nino muncul di layar hpnya.
"Sayang, ini aku di jalan dan jalanan macet parah, seperti yang kulihat di gmaps, merah menyalah!"
Beberapa detik kemudian pesan lain muncul.
"Aku kayaknya jadi ngopi dulu sama anak-anak sekalian nunggu macetnya reda."
Stela membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Ia tahu arti kalimat itu. Nino kemungkinan akan berhenti di sebuah tempat makan atau kafe bersama dengan teman-temannya sebelum pulang. Itu sudah menjadi kebiasaan yang hampir rutin dilakukan.
Stela tidak benar-benar memprotesnya.
Ia juga tidak memiliki alasan yang cukup untuk melakukannya. Ia hanya bisa mengetik balasan singkat.
"Oke. Hati-hati di jalan."
Setelah pesan itu terkirim ia meletakkan kembali ponselnya di meja.
Jam dinding berjalan pelan.
Setengah sepuluh
Sepuluh
Sepuluh lewat dua puluh.
Stela berdiri dan berjalan ke dapur lagi. Ia membuka kulkas dan melihat makanan yang ia siapkan untuk makan malam. Ia sempet memanaskannya di microwave sebelum duduk di meja makan.
Apartemen terasa begitu sunyi saat seseorang makan sendirian. Suara sendok yang menyentuh piring terdengar lebih keras dari biasanya. Bahkan suara detak jam dinding seperti merang-raung mendedangkan lagu galau yang tak berkesudahan.
Stela makan perlahan, tapi setengah dari makanannya tersisa. Ia akhirnya menyerah dan berdiri untuk menyudahi makannya.
Ketika ia mencuci piring di wastafel, matanya kembali menangkap pantulan dirinya di kaca jendela dapur yang gelap. Kali ini pantulan itu lebih terlihat jelas sebab lampu dapur menyalah terang.
Stela terlihat lelah.
Bukan lelah seperti di sinetron, hanya jenis lelah yang datang dari rutinitas yang berulang setiap harinya.
Ponselnya kembali bergetar.