Siang itu apartemen terasa lebih sunyi. Setelah pulang dari taman, Rachel langsung tertidur di kamar dengan boneka kelinci kesayangannya. Boneka itu dipeluk sangat erat. Stela menutup pintu kamar itu perlahan agar anak itu tidak terbangun, lalu berjalan kembali ke ruang tamu.
Cahaya matahari masuk melalui cendela besar, membuat lantai ruang tamu terlihat terang. Di luar sana kota tetap bergerak seperti baiasa. Mobil-mobil begerak pelan di jalan raya, dan suara samar klakson terdengar sampai lantai dua belas.
Stela duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Grup teman-temannya kembali ramai. Mereka mengirim beberap foto dari brunch kemarin. Foto makanan, foto meja yang penuh tawa, dan satu foto bersama di mana mereka semua terlihat santai.
Stela memperhatikan foto itu cukup lama.
Di salah satu sudut foto, dirinya terlihat sedang menunduk ke arah Rachel yang duduk di kursi bayi. Ia sedang menyuapi anak itu ketika kamera mengambil gambar.
Teman-temannya tersenyum ke arah kamera.
Ia tidak.
Bukan karena ia tidak bahagia.
Hanya saja ia sedang sibuk melakukan sesuatu yang lain.
Stela mematikan layar ponsel dan meletakkannya di meja. Ia berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat, meskipun ia sebenarnya tidak terlalu ingin minum apa pun. Kadang-kadang ia hanya merasa perlu melakukan sesuatu dengan tangannya agar pikirannya tidak terlalu banyak bergerak.
Sementara itu, di tempat lain di kota yang sama, Nino baru saja keluar dari ruang rapat bersama beberapa rekan kerjanya. Mereka berjalan menuju pantry kantor dengan masih membicarakan proyek yang sedang mereka kerjakan.
"Sore nanti jadi?" Tanya salah satu dari mereka.
Nino mengangkat alis.
"Jadi apa?"
"Main futsal anak-anak sudah booking lapangan."
Nino berpikir sebentar sebelum menjawab,
"Boleh juga."
"Jam tujuh ya."
Nino mengangguk.
"Siap."
Obrolan itu selesai begitu saja. Tidak ada yang terasa aneh bagi Nino ketika ia kembali duduk di meja kerjanya dan membuka laptop. Jadwal seperti ini sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama.
Sementara itu, di apartemen mereka, Stela sedang melipat pakaian yang baru saja ia ambil dari jemuran. Ia melipat satu per satu dengan rapi, kaus kecil Rachel, kemeja kerja Nino, handuk dapur yang mulai memudar warnanya.
Semua pekerjaan itu terasa seperti rangkaian kecil yang tidak pernah ada ujungnya.
Rachel terbangun sekitar satu jam kemudian. Anak itu keluar kamar sambil mengucek-ucek matanya.