Malam itu kota terasa lebih terang dari biasanya. Lampu-lampu gedung tinggi memantul di kaca jendela apartemen seperti titik-titik kecil yang tidak pernah benar-benar padam. Dari ruang tamu, Stela bisa melihat jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Rachel sudah tertidur di kamarnya setelah Stela membacakan cerita pendek sebelum tidur. Anak itu selalu meminta cerita yang sama, tentang kelinci kecil yang tersesat di hutan dan akhirnya menemukan jalan pulang. Rachel selalu tertidur sebelum cerita itu selesai, tetapi tiap malam ia tetap meminta Stela untuk membacakan cerita itu lagi.
Sekarang apartemen kembali sunyi. Stela duduk di sofa sambil memegang ponselnya, menatap layar tanpa benar-benar melakukan apa pun. Ia membuka media sosial sebentar, lalu menutupnya lagi. Tidak ada yang benar-benar ingi ia lihat.
Beberapa menit kemudian sebuah foto baru muncul di layar.
Nino menggunggah foto bersama teman-temannya di lapangan futsal. Mereka semua berkeringat, tertawa, dan saling merangkul bahu satu sama lain.
Stela menatap foto itu cukup lama.
Ia tidak merasa kesal.
Namun ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya, seperti ruang kecil yang tiba-tiba terasa kosong.
Ia menutup layar ponsel dan meletakannya di meja.
Di dalam kepalanya muncul sebuah kalimat yang bahkan tidak ia sadari sedang ia pikirkan.
"Kadang yang paling melelahkan menjadi ibu bukanlah pekerjaanya. Tetapi perasaan bahwa hidupmu perlahan berhenti bergerak."
Stela tidak tahu dari mana kalimat itu datang.
Mungin dari dirinya sendiri.
Atau mungkin dari keheningan yang terlalu lama ia dengarkan.
Ia berdiri dan berjalan ke dapur untuk menuangkan air minum. Ketika ia kembali ke ruang tamu, ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Nino.
"Baru selesai, lagi makan sama anak-anak."
Stela mengetik balasan singkat.
"Oke."
Tidak ada yang perlu dibicarakan lebih lanjut.
Ia berjalan ke arah jendela dan melihat kota di bawah sana. Lampu kendaraan terlihat seperti aliran cahaya panjang yang bergerak pelan di tengah kemacetan malam.
Beberapa tahun lalu, pemandangan seperti ini sering ia lihat dari kursi penumpang di samping Nino, ketika mereka pulang dari makan malam atau dari bioskop.
Sekarang ia hampir selalu melihatnya sendirian.