Kota kali ini ramai sekali, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Dari jendela apartemen, suara kendaraan terdengar seperti dengungan panjang yang tidak pernah berhenti.
Stela sedang duduk di lantai ruang tamu bersama Rachel yang sibuk menggambar di atas kertas gambarnya. Krayon warna-warni berserakan di sekitar mereka. Rachel menggambar sesuatu yang menurutnya adalah keluarga.
"Ini Mama," kata Rachel sambil menunjuk gambar perempuan berambut panjang berwarna coklat itu.
"Ini Papa."
Gambar berikutnya terlihat lebih santai dengan background berwarna biru.
"Terus ini Rachel."
Stela tersenyum sambil memperhatikan gambar itu. Namun matanya berhenti pada satu detail kecil.
Dalam gambar Rachel, Papa berdiri di luar rumah.
Mama dan Rachel di dalam.
"Kenapa Papa di luar sayang?" Tanya Stela lembut.
Rachel menjawab dengan sangat polos.
"Papa kan kerja."
Stela tidak bertanya lagi. Anak kecil sering menggambar apa yang mereka lihat setiap hari.
Ia mengusap kepala Rachel.
"Bagus sekali gambarnya."
Rachel tersenyum bahagia.
"Mama, Rachel mau tempel gambar ini di kulkas!"
Mereka berjalan ke dapur dan menempelkan gambar itu dengan megnet kecil berbentuk pisang. Kulkas itu sudah penuh dengan gambar Rachel dari buah-buahan sebelumnya.
Ada gambar bunga, rumah, pelangi, bahkan satu gambar besar yang menurut Rachel adalah gambar dinosaurus meskipun lebih mirip kucing besar dengan leher yang panjang.
Setelah itu Stela mulai menyiapkan makan siang.
Hari itu berjalan seperti hari-hari seblumnya, tidak ada hal baru yang membuat ia bersemangat.
Rachel bermain, Stela mengurus rumah, lalu malam datang tanpa banyak perubahan.
Namun siang itu ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda.
Bel pintu berbunyi.
Stela membuka pintu dan ternyata itu Lina, tetangganya dari lantai sebelah.
"Halo," kata Lina sambil tersenyum.
"Mari-mari silahkan masuk."
Lina membawa kotak kecil berisi kue.
"Ini aku bikin sendiri loh. Sengaja bikinnya banyak, biar bisa diantar kesini." Katanya.
Dari kejauhan Rachel berlari menghampiri ibunya.
"Kue! Aku suka sekali kue."
Lina tersenyum. "Ini semua kuenya buat Rachel. Kamu suka?"
Rachel mengagguk.
Mereka duduk di ruang tamu sambil meminum teh. Percakapan dimulai ringan, tentang anak, tentang harga bahan makanan yang semakin mahal, dan tentang pendaftaran sekolah anak yang sudah mulai penuh.
Namun kemudian Lina mengatakan sesuatu yang mengejutkan Stela.
"Aku minggu depan mulai kerja lagi."
Stela menatapnya.
"Oh ya?"
"Iya. Part time saja."