PEREMPUAN YANG MEMATIKAN CAHAYANYA

Lilian Arisianti
Chapter #10

Satu Langkah Kecil

Pagi itu udara kota terasa lebih segar setelah hujan semalaman. Langit tidak sepenuhnya biru, masih ada sisa awan abu-abu yang bergerak pelan diantara gedung-gedung tinggi. Dari jendela apartemen, Stela bisa melihat jalanan yang sudah kembali sibuk seperti biasa.

Rachel sedang duduk di kursi makan sambil memainkan sereal di mangkuknya. Beberapa potong jatuh ke meja, tetapi tampaknya anak itu tidak terlau peduli. 

"Ayo dimakan, nak." Kata Stela sambil menyeka meja dengan tisu.

Rachel mengangguk, lalu memasukkan satu sendok penuh sereal ke dalam mulutya. 

Tempat duduk Nino sudah kosong. Ia berangkat lebih pagi karena harus menghadiri rapat di kantor klien.

Rutinitas seperti itu sudah sangat biasa bagi Stela.

Setelah sarapan selesai, ia membereskan dapur sambil memikirkan sesuatu yang sejak kemarin terus muncul di kepalanya.

Tentang bekerja lagi. 

Tentang memiliki sesuatu yang hanya miliknya sendiri. Ia tidak benar-benar ingin kembali bekerja penuh waktu. Ia bahkan tidak yakin masih siap untuk itu. Tetapi ide untuk memiliki satu kegiatan kecil di luar rumah terasa seperti sesuatu yang menarik. 

Bukan karena ia bosan dengan Rachel. 

Bukan karena ia tidak mencintai rumahnya. 

Tetapi karena ada bagian dari dirinya yang terasa seperti ruangan yang terlalu lama tertutup. 

Ponselnya berbunyi. 

Pesan dari Lina. 

"Aku tadi lihat ada kelas menulis dekat sini. Seminggu sekali saja. Kayaknya kamu bisa ikut."

Stela membaca pesan itu beberapa kali. 

Kelas menulis. 

Ia pernah sangat suka menulis ketika masih kuliah. Bukan sesuatu yang serius, hanya catatan-catatan kecil di buku atau cerita pendek yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. 

Namun setelah menikah dan memiliki Rachel, kebiasaan itu perlahan menghilang. 

Seperti banyak hal lain yang dulu ia lakukan. Rachel menarik ujung bajunya. 

"Ma, lihat."

Anak itu menunjukkan gambar baru yang ia buat di atas kertas.

Kali ini gambar mereka sedang di taman. 

Stela tersenyum. 

"Bagus sekali."

Namun pikirannya kembali pada pesan Lina. 

Ia mengetik balasan. 

"Kelasnya hari apa?"

"Sabtu sore." Lina membalasnya. 

Stela melihat kalender di ponselnya.

Sabtu. 

Hari ketika Nino libur bekerja. 

Ia menggigit bibir bawahnya sedikit.

"Jam berapa?"

"Jam empat sampai enam."

Stela menatap pesan itu cukup lama.

Hanya dua jam.

Lihat selengkapnya