Sabtu berikutnya datang lebih cepat dari yang Stela kira.
Sejak pagi ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak besar, tidak juga dramatis. Hanya perasaan kecil seperti seseorang yang diam-diam menunggu sesuatu yang menyenangkan.
Rachel sedang bermain di lantai dengan puzzle kayunya. Nino duduk di sofa membaca berita di ponselnya, sesekali menjawab pesan dari kantor.
Tidak ada yang berbeda dari apartemen mereka. Namun bagi Stela, hari itu terasa sedikit lebih hidup.
Ia memasak makan siang sambil sesekali melihat jam di dinding. Setiap kali jarum jam bergerak lebih dekat ke pukul empat, ia merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat.
Bukan karena gugup.
Lebih seperti antusias.
Hal sederhan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Setelah makan siang, Rachel tertidur. Stela membereskan dapur, melipat beberapa pakaian, lalu duduk sebentar di ruang tamu.
Nino memperhatikannya.
"Kamu kelihatan semangat hari ini," katanya.
"Masa?"
"Iya."
Nino memiringkan kepalanya sedikit.
"Kelas menulis ya?"
Stela mengangguk.
"Lumayan menyenangkan."
Nino tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali menatap ponselnya.
Namun di dalam pikirannya sebenarnya hadir sesuatu yang ia sadari sejak minggu lalu.
Rumah terasa sedikit berbeda ketika Stela pulang dari kelas itu.
Ia terlihat lebih ringan.
Lebih hidup.
Perubahan kecil yang sebenarnya menyenangkan untuk dilihat.
Namun ada juga sesuatu yang tidak bisa Nino jelaskan.
Seperti ada bagian kecil dari dunia rumah mereka yang perlahan berubah posisi.
Sore hari datang.
Rachel bangun dengan rambut sedikit berantakan dan langsung mencari Stela.
"Mama mau pergi lagi?" Tanyanya.
Stela berlutut di depan anak itu.
"Iya, sebentar."
Rachel memeluk lehernya.
"Kok Mama sering pergi sekarang?"
Pertayaan itu membuat Stela terdiam sejenak.
Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut.
"Mama sekarang mulai belajar lagi. Cuma sebentar saja."
Rachel akhirnya mengangguk, meskipun wajahnya terlihat sedikit ragu.