Malam itu terasa lebih berat dari hari-hari sebelumnya, meskipun tidak ada suara keras, tidak ada pintu dibanting, dan tidak ada kata-kata tajam yang dilontarkan. Segalahnya berjalan seperti biasa-terlalu biasa-hingga justru terasa menekan.
Setelah kejadian sabtu itu, sesuatu dalam diri Stela tidak benar-benar kembali seperti semula. Ia tetap menjalani hari-harinya. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menemani Rachel bermain, membereskan rumah, dan menyambut malam yang datang tanpa banyak perubahan. Namun di balik semua itu, ada satu hal kecil yang berubah, yaitu cara ia merasakan semuanya.
Ia tidak lagi menunggu Sabtu dengan perasaan yang sama.
Ia tidak lagi membuka ponsel untuk melihat grup kelas menulisnya dengan antusias.
Bahkan ketika pesan-pesan baru masuk, ia hanya membacanya sekilas, lalu menutupnya kembali tanpa benar-benar ingin terlihat.
Bukan karena ia tidak ingin.
Tapi karena ia merasa percuma.
Hari Sabtu berikutnya datang lagi, tetapi kali ini Stela tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak menyinggung kelasnya, tidak menyiapkan tas, tidak melihat jam seperti minggu sebelumnya. Ia hanya menjalani hari seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa yang perlu ditunggu.
Nino memperhatikan itu.
Ia duduk di sofa sambil sesekali melirik ke arah Stela yang sedang menyuapi Rachel makan siang. Ada sesuatu yang berbeda, tapi ia tidak langsung bisa menjelaskannya.
"Kamu tidak ada kelas hari ini?" Tanyanya.
Stela menggeleng kecil tanpa menoleh.
"Tidak."
"Tidak masuk?"
"Tidak."
Jawabannya singkat. Sangat singkat.
Nino mengerutkan kening sedikit. "Kenapa?"
Stela tidak langsung menjawab. Ia menyeka mulut Rachel dengan tisu, lalu berdiri membawa piring ke dapur. Geraknnya tenang, tetapi ada jeda yang terasa lebih lama dari biasanya.
"Tidak apa-apa," jawabnya.
Jawaban yang sama seperti yang ia sering berikan.
Jawaban yang selama ini cukup.
Tapi hari itu, entah mengapa, tidak lagi cukup.
Sore berjalan lambat. Rachel tidur setelah bermain cukup lama. Apartemen menjadi sunyi, hanya suara telivisi yang menyala pelan di ruang tamu.
Nino duduk di sofa, sementara Stela berdiri di dekat jendela, menatap kota yang mulai berubah warna menjadi malam.
Lampu-lampu mulai menyala.
Jalan mulai padat.
Dan diantara semua itu, keheningan di dalam rumah terasa semakin jelas.
"Aku pikir kamu suka kelas itu," kata Nino tiba-tiba.
Stela tetap menatap ke luar.