PEREMPUAN YANG MEMATIKAN CAHAYANYA

Lilian Arisianti
Chapter #16

Hal yang Selama Ini Disimpan

Malam itu tidak dimulai dengan pertengkaran. 

Terlihat biasa saja, terkesan tenang. Rachel sudah tidur lebih awal setelah seharian bermain. Rumah kembali sunyi seperti malam-malam sebelumnya. Lampu ruang tamu yang menyala redup, televisi hidup tanpa suara, dan kota di luar jendela yang bergerak tanpa peduli apa yang sedang terjadi di dalam sebuah apartemen kecil di lantai dua belas itu. 

Stela sedang melipat pakaian di sofa. Gerakannya rapi, teratur, dan terstruktur. Kaus kecil rachel, kemeja kerja Nino, piyama, handuk semuanya dilipat tanpa ada satu pun yang terlewat. 

Nino keluar dari kamar setelah selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah, dan ia duduk di ujung sofa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. 

Beberapa detik mereka berada dalam keheningan. Sampai akhirnya Nino berucap, dengan nada datar, "Apa kamu tidak mau melanjutkan kelas menulis itu lagi?"

Stela tidak langsung menjawab. Tanganya tetap melipat pakaian, tetapi gerakannya sedikit melambat. 

"Aku tidak tahu," katanya pelan.

"Kalau kamu suka, ya lanjutkan saja."

Kalimat itu lagi. 

Kalimat yang selalu terdengar benar. 

Selalu masuk akal.

Dan selalu terasa kosong. 

Stela berhenti melipat. 

Ia menaruh pakaian di sampingnya, lalu menatap Nino. 

"Kamu benar-benar tidak mengerti ya?"

Nino mengernyit sedikit."

"Maksudnya?"

Stela menarik napas pelan, seperti seseoang yang akhirnya memutuskan untuk membuka sesuatu yang sudah lama ia simpan. 

"Aku bukan tidak mau lanjut," katanya, suaranya tetap tenang tapi mulai terasa berat. "Aku tidak bisa melanjutkan kelas dengan keadaan seperti ini."

"Keadaan seperti apa?"

Nada Nino masih datar. Bukan marah. Lebih seperti benar-benar tidak paham. 

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa semakin dalam. 

Stela tertawa kecil. 

Tidak karena lucu. 

"Keadaan dimana setiap kali aku mau punya waktu untuk diriku sendiri selalu ada sesuatu yang membuat aku harus mundur."

"Perkara kemarin? Kan kamu tahu kalau aku ada pekerjaan." Nino sedikit kebingungan.

Stela menggeleng pelan. 

"Bukan cuma kemarin, Nino."

Ia menatapnya lebih dalam. 

"Selalu seperti itu. Mungkin bukan hal besar. Tapi hal-hal seperti itu cukup untuk membuatku berhenti lagi dan lagi."

Nino terdiam. 

Ia mulai merasa obrolan ini tidak lagi ringan. 

"Tapi aku tidak pernah melarang kamu untuk ini itu Stel," katanya. 

Kalimat itu keluar cepat. Refleks seperti pembelaan yang selama ini ia yakini benar. 

Lihat selengkapnya