PEREMPUAN YANG MEMATIKAN CAHAYANYA

Lilian Arisianti
Chapter #17

Setelah Kata-Kata Itu

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bukan karena tidak ada suara, sesekali terdengar suara kendaraan yang lewat di bawah apartemen, dan sesekali juga notifiksi ponsel Nino berbunyi sekali dua kali. Tapi ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Seperti dua orang yang masih duduk di ruangan yang sama, tetapi tidak lagi berada di titik yang sama. 

Stela pun bangkit dari sofa lebih dulu. 

"Aku mau tidur," katanya pelan. 

Nino hanya mengangguk.

"Iya."

Tidak ada yang mencoba menahan. Tidak ada yang mencoba untuk melanjutkan pembicaraan. Seolah keduanya sama-sama tahu jika pembicaraan itu dilanjut malam itu, mungkin bukan solusi yang akan keluar melainkan hal-hal yang lebih menyakitkan.

Di kamar, Stela berbaring di samping Rachel yang sudah tertidur. Ia memeluk anak itu pelan, seperti biasanya. Hangat, nyata, dan nyaman. 

Tidak ada yang berubah dari cintanya sebagai ibu. 

Tapi untuk kali ini, ia tidak lagi merasa cukup hanya dengan hal itu. 

Matanya terbuka cukup lama di tengah gelap. 

Ia tidak menangis. 

Juga tidak marah. 

Ia hanya sadar. 

Sadar jika selama ini ia hidup dengan cara yang membuat semua orang tetap nyaman kecuali dirinya. 

Sementara itu, di ruang tamu, Nino masih duduk di sofa dengan posisi yang sama. Televisi masih menyala tanpa suara. Ponselnya masih ia genggam, tapi tak benar-benar ia lihat. 

Kalimat Stela masih berputar-putar cepat di kepalanya. 

Bukan yang keras. 

Malah justru kalimat pelan yang ia ucapkan dengan terbata-bata. 

Kalimat yang tidak menyalahkan. 

Juga tidak menyerang. 

Yang hanya jujur diucapkan oleh seseorang yang masih ingin memeluk dirinya. 

"Kamu bagian dari alasan kenapa aku kehilangan diriku."

Ia mengusap wajahnya pelan.

Selama ini, ia selalu merasa sudah melakukan yang benar. Bekerja, mencukupi segalah kebutuhan, tidak pernah membatasi, memberi kebebasan. Ia tidak pernah sama sekali merasa membunuh mimpi Stela dengan sesuatu yang ia sebut 'digantung'.

Tapi sekarang ia melihat dari sisi yang berbeda. 

Mungkin ia tidak menahan. 

Tapi juga tidak pernah benar-benar menopang.

Dan perbedaan itu ternyata besar.

Lihat selengkapnya