Sabtu itu datang. Dia datang sendiri, tanpa benar-benar ada yang menunggu.
Termasuk Stela.
Bukan karena ia tidak peduli, tapi kerena ia sudah belajar satu hal, jika harapan yang terlalu tinggi sering kali berakhir dengan kekecewaan.
Pagi itu Rachel bangun dengan ceria, meminta susu, lalu berlari kecil di ruang tamu sembari membawa boneka kelincinya. Nino tidak bekerja hari itu. Ia duduk di sofa, lebih santai dari biasanya, sesekali bermain dengan Rachel.
Semua terlihat baik.
Bahkan tampak sangat baik.
Seperti sesuatu yang sedang berusaha dijaga.
Menjelang siang, Stela mulai menyiapkan makan. Tidak banyak bicara, tapi ruang itu tetap terlihat hangat. Hubungannya dengan Nino sekarang seperti dua orang muda-mudi yang sedang berhati-hati melangkah di tampat yang hampir retak.
"Aku tidak ada acara hari ini," kata Nino tiba-tiba.
Stela hanya mengangguk.
"Iya."
Ia tidak langsung menaggapi. Karena ia tahu bukan kata-kata yang ia tunggu. Tapi konsistensi.
Waktu terasa pelan bagi Stela karena ia sama sekali tidak sedang menunggu sore yang hampir mendekat. Jam dinding sudah berlayar diangka tiga pukul sepuluh. Satu jam lagi kelas akan dimulai.
Stela berdiri di depan lemari.
Ia memilih baju.
Gerakannya pelan, tapi pasti.
Bukan ragu.
Lebih seperti orang yang sedang tidak ingin berharap.
Di ruang tamu, Nino sedang bermain dengan Rachel. Tawa kecil anak itu terdengar, ringan, tanpa beban.
Stela keluar dengan tas kecil di tangannya.
"Aku pergi jam empat," katanya.
Nino menoleh.
"Iya."
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Tanpa ragu.
Sesuatu di dalam dada Stela teras sedikit longgar.
Namun tapat di saat itu, ponsel Nino berbunyi.
Ia melihat layar.
Ekspresinya berubah.
Tidak drastis, tapi cukup untuk terlihat.
Stela berhenti. Ia tidak bertanya. Ia hanya melihat.
Nino membaca pesan itu lebih lama beberapa detik dari biasanya. Kemudian ia menghela napas panjang.
"Kenapa?" Tanya Stela.
Nino menggeleng kecil.
"Tidak apa-apa."
Jawaban yang terlalu cepat.
Terlalu familiar.
Stela tidak langsung menanggapi. Ia hanya berdiri di tempatnya, menunggu.
Bukan untuk jawaban sebab dia sudah memprediksi apa yang akan di katakan Nino.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Nino berkata, lebih pelan, "Ada sedikit masalah pekerjaan."
Sunyi.
Ia sepertinya pernah mendengar kalimat itu dan hari ini ia mendengarkannya lagi.
"Kamu harus pergi?" Suara Stela tetap tenang.