Kelas itu berjalan seperti biasanya, dengan suara pulpen yang bergerak pelan di atas kertas dan sesekali instruksi dari pengajar yang tidak pernah memaksa siapa pun untuk menulis dengan benar, hanya meminta mereka jujur.
Namun bagi Stela, sore itu terasa berbeda dari sebelumnya.
Ia duduk di kursinya, menatap halaman kosong lebih lama dari biasanya.
Bukan karena tidak tahu apa yang harus ditulis.
Tetapi karena ia merasa tidak sedang mencuri waktu dari siapa pun.
Tidak ada perasaaan terburu-buru, tidak ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap di sela-sela pikirannya.
Tidak ada bayangan tentang sesuatu di rumah yang sedang menunggunya dengan tuntutan yang tidak terucap.
Ia ada disana.
Sepenuhnya.
Sebagai dirinya sendiri.
Dan kesadaran itu terasa asing sekaligus menenangkan.
Ketika akhirnya ia mulai menulis, kata-kata yang keluar tidak lagi ragu seperti minggu-minggu sebelumnya.
Ia menulis tentang perempuan yang selalu tahu kapan harus berhenti.
Kapan harus mundur.
Dan kapan harus mengalah, sampai suatu hari ia lupa bahwa sebenarnya ia juga punya pilihan untuk tetap berjalan.
Ia tidak menulis tentang Nino, tidak tentang Rachel, tidak tentang rumahnya, tetapi semua itu tetap ada di dalam tulisannya, terselip diantara kalimat-kalimat yang sederhana tapi jujur.
Di sisi lain kota, di dalam apartemen yang biasanya terasa begitu mudah dijalani, Nino mulai merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia alami.
Awalnya semuanya terlihat sederhana.
Rachel meminta makan, ia mencoba menyiapkan apa yang bisa dimakan anak itu, meskipun tidak serapi yang disiapkan Stela.
Rachel meminta ditemani bermain.
Ia menuruti.
Meskipun setelah beberapa saat ia mulai merasa lelah dengan energi anak kecil yang seolah tidak pernah habis.
Namun seiring waktu berjalan.