Hari-hari setelah perdebatan itu usia semua yang terjadi tidak langsung berubah drastis, dan justru di situlah letak kejujurannya.
Tidak ada keajaiban yang membuatnya tiba-tiba menjadi mudah, tidak ada versi baru dari Nino yang langsung sempurna memahami setiap kebutuhan Stela.
Dan tidak ada pula Stela yang tiba-tiba kembali menjadi perempuan yang utuh tanpa proses.
Pagi tetap datang seperti biasa.
Rachel tetap bangun dengan suara kecilnya yang ceria, dan dapur tetap menjadi tempat pertama yang menyala sebelum ruangan lain hidup.
Namun ada sesuatu yang perlahan bergeser, yaitu hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan, kini mulai diperhatikan.
Nino tidak selalu berhasil, tetapi ia selalu berusaha hadir dengan cara yang berbeda, bukan hanya secara fisisk, tetapi dengan kesadaran bahwa kehadirannya punya arti yang lebih dari sekedar dia ada di rumah.
Suatu sore, ketika hari sabtu kembali datang, Stela tidak lagi berdiri di depan lemari dengan perasaan ragu seperti sebelumnya.
Ia tidak menunggu kepastian, tidak juga mencari tanda-tanda apakah hari ini berjalan sesuai rencana atau tidak.
Ia hanya bersiap seperti seseorang yang akhirnya memehami bahwa hidupnya tidak harus menunggu kondisi yang sempurna untuk bisa berjalan.
Di ruang tamu, Nino sedang duduk bersama Rachel, membantu anak itu menyusun puzzle yang beberapa kali terbalik dan membuat Rachel mengeluh kecil.