Lalu muncul ingatan lain yang seolah masih memiliki benang merah. “Saya ini laki-laki, perempuan gampang buat saya!” katanya angkuh. “Bahkan perawan pun masih bisa saya dapatkan.”
Aku benar-benar merasa terhina, seolah-olah dulu aku yang mengemis minta dinikahi olehnya. Seolah-olah akulah yang mengejarnya, harga diriku jatuh sejatuh-jatuhnya.
Sebenarnya, aku tak masalah jika Mas Jonas benar-benar melakukannya. Aku ikhlas. Yang membuatku sakit, ia terlalu banyak mengancam, seolah-olah ingin membuatku takut kehilangan dirinya.
Ia berani berkata begitu mungkin karena dialah satu-satunya lelaki yang pernah menjadi pacarku. Hingga usia dua puluh satu tahun, aku belum pernah berpacaran dengan siapa pun. Mungkin juga di pikirannya, aku tidak laku dan hanya dia yang mau denganku, sehingga aku akan takut kehilangannya.
Padahal, kenyataannya, aku terbiasa jomlo. Aku tak takut jika ia pergi. Lagipula, sebelum mengenalnya, aku merasa hidupku baik-baik saja.
Bulan demi bulan berlalu. Bayi Ali perlahan tumbuh, tetapi sangat sulit baginya mengejar berat badan hingga mencapai garis kurva hijau. Terlebih lagi, Bayi Ali lahir dengan berat badan lahir rendah.
Bayi Ali juga tidak mau minum susu formula, sehingga ia hanya mengandalkan ASI-ku. Aku sudah merasa makan makanan bergizi, tetapi tetap saja, aku merasa ASI-ku buruk karena berat badan Bayi Ali tidak pernah sesuai dengan bayi seusianya.
Bidan akhirnya menyarankan suatu suplemen agar Bayi Ali dapat mengejar ketertinggalan berat badannya. Mas Jonas pun mengikuti saran bidan dan membelikannya setiap bulan. Suplemen itu dikonsumsi olehku setiap hari.
Beberapa bulan kemudian, bayi Ali mendapatkan suntikan DPT 2. Hari itu kebetulan Mas Jonas sedang libur kerja. Karena suntikan itu menyebabkan bayi demam, bayi Ali menangis tanpa henti.
Mas Jonas memaksaku agar bisa mendiamkan Ali. Ia tidak tega mendengar tangisan anaknya. Padahal, aku juga bingung menghadapi kondisi itu. Aku sudah berusaha mengompres di area dekat suntikan itu.
“Gendong, gendong, gendong!” desak Mas Jonas. “Anak nangis diam aja!” titahnya dengan air muka yang bengis.
Aku mengangkat tubuh Ali. Dengan segala cara, aku mencoba menenangkan Ali agar tidak menangis lagi. Tubuhku terasa gemetar. Namun tak tampak di mata.