Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #4

Bab 4 Cepat!

“Enggak keras, kok,” kataku. 


“Nggak keras apanya? Anak sampai terbatuk-batuk kayak gitu kamu bilang nggak keras.”


“Itu nggak keras,” aku yakin. 


“Saya ini tukang masak! Saya tahu mana nasi keras, mana nasi pulen.” Mas Jonas membandingkan dengan nasi restoran di tempat ia bekerja. Aku terdiam, merasa seperti orang bodoh.


“Saya tanya sekali lagi. Ini keras apa nggak?” Matanya tajam.


“Enggak.” Aku masih mempertahankan jawabanku, tetapi belum sempat memberikan penjelasan.


“Oke kalau gitu. Saya tanya ibu-ibu di luar, apakah nasi kamu ini keras apa enggak?”


Mas Jonas berdiri dan bersiap membuka pintu. Ia menatapku sangar. Aku terdiam. Perasaanku malu menyelinap lebih dulu sebelum mangkuk makanan itu benar-benar di di bawa berkeliling komplek. 


“Jangan,” kataku lirih. Rasanya aku ingin menangis.


“Saya bawa beneran. Saya tanya sama ibu-ibu komplek ini.”


Satu tangannya memegang gagang pintu. Perasaanku campur aduk. Wajahku sudah terasa panas.


“Keras apa enggak makanan kamu ini?” tanyanya sekali lagi.


Aku menelan ludah, menekan segala perasaanku. “Iya, keras,” jawabku akhirnya. Mas Jonas pun mengurungkan niatnya.

Aku merasa semakin tak berdaya.


Aku berpikir, apakah tidak wajar jika seorang ibu membuat kesalahan dalam memasak? Apakah tidak wajar jika seorang ibu membuat makanan yang rasanya tidak enak?


Lihat selengkapnya