Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #6

Bab 6 Desakan

Lama-lama, aku merasa tak pandai mengelola uang. Bahkan setelah kucatat semua di buku, apa yang kubeli, dan berapa harganya, tetap saja jumlah uang yang keluar dan yang tersisa tidak sama.


Akhirnya, kami memutuskan untuk belanja mingguan ke pasar supaya lebih hemat. Kami pergi ke pasar. Ali digendong Mas Jonas.

Ali tidak bisa jauh dariku. Ia akan menangis. Ia juga tidak suka tempat ramai dan sesak seperti itu.


Aku pun tak tahu sejak kapan Ali mulai takut terhadap orang lain. Ia tidak mau berinteraksi, bahkan bisa menangis ketika melihat orang lain. Ia seperti ketakutan.


Bahkan orang yang sama sama jika dalam penampilan yang berbeda sedikit saja, ia seakan tidak mengenali dan menangis histeris. Seperti saat aku mengenakan mukena atau sesekali mencoba memakai jilbab.


Terbesit pikiran, apakah aku terlihat menyeramkan ketika mengenakan itu? Atau aku  terlihat seperti hantu?  Aku tak mengerti.


Di pasar, aku merasa seperti sedang berada di bawah mesin press. Mas Jonas akan meneriakiku kalau dirasa aku lamban. Tak perduli, jika sedang mengantre, berjalan di jalan yang licin, atau ketika aku keberatan membawa belanjaan. Yang ia mau aku hanya cepat. 


“Cepat! Cepat! Cepat!” katanya ketika aku mendekati lapak ayam, ikan, dan lapak-lapak lainnya untuk membeli. Padahal, bukan aku tak mau cepat-cepat. Aku hanya sedang menunggu giliran dilayani.


Setelah mendesak seperti itu, Mas Jonas berjalan agak menjauh dari lapak yang kudekati. Dari kejauhan ia masih mendesakku karena kalau terlalu lama, Ali menangis dan ia tidak tahan mendengarnya.


Mataku melihat sebuah barang di toko perabotan rumah tangga di belakang lapak ayam potong. Aku ingin mencoba berbasa-basi agar ia tak sebengis yang terlihat. Aku malu. Dari tadi pedagang-pedagang yang melihat kami sesekali memandangnya, lalu beralih kepadaku dengan tatapan yang tak kumengerti.


“Pa, lihat ....”


“Jangan banyak omong kamu!” sentaknya. Aku langsung diam. Aku malu semalu-malunya.


Lihat selengkapnya