Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #7

Bab 7 Orang-Orang Di Pasar

Mas Jonas juga kerap mengataiku boros, padahal selama di rumah aku tak jajan untuk diriku sendiri. Kadang ada pedagang makanan lewat depan rumah, ada keinginan untuk membeli, tetapi ingat uang di dompet, merasa sayang dan akhirnya aku mengubur keinginan itu. 


Aku hanya jajan seminggu sekali, saat Mas Jonas libur ia akan mengajak aku dan Ali berkeliling di dekat-dekat tempat tinggal untuk mencari jajanan. 


Mas Jonas juga pernah mengatakan, ia mau saja menambahi uang belanjaku yang kurang, tetapi minggu depannya uang belanjanya dipotong. 


Aku terheran, tak mengerti cara berpikirnya. kenapa sistemnya seperti perusahaan. Seperti aku ini karyawan yang berutang ke kantor dan dikembalikan saat gajian. 


Namun, untungnya hal itu tak sampai ia lakukan. Aku pun tak tahu menngapa, tetapi perkataannya cukup membuatku merasa seperti seorang pekerja. 


Sejak saat itu, setiap kali pergi ke pasar, kepalaku terasa berat, seolah tumpukan batu besar diletakkan di atas tubuhku. Sebab aku tahu apa yang menungguku setelah kembali ke rumah.


Belum lagi tatapan orang-orang yang melihatku diteriaki. Aku rasanya tak ingin muncul lagi di pasar itu. Namun, kutelan sendiri perasaan itu agar tak semakin menambah kesulitan.


Aku tak tahu mengapa Mas Jonas berlaku seperti itu kepadaku di depan umum. Apa yang ingin ia tunjukkan? Suami hebat? Suami yang pandai mendidik istri? Suami yang disegani? Atau apa? Aku tak mengerti. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati.


Aku mengembuskan napas berat. Dari minggu ke minggu rasanya sangat cepat. Semakin aku takut, waktu rasanya justru berlari semakin cepat ke arahku.


Kami kembali berada di pasar, tentu saja dengan teriakan yang membuatku tak tenang. Bahkan, salah satu pedagang ayam tempat kami biasa membeli tahu. Ketika kami muncul, ia berkata, “Nah, cepat-cepat. Dia mau cepat-cepat.”


Tangannya lincah memotong ayam pilihanku. Beruntung saat itu lapaknya masih sepi. Ada perasaan bergejolak dalam hati, aku tak tahu itu apa.


Aku rasanya sudah tak sanggup. Kalau Ali menangis karena jaraknya terlalu jauh dariku, aku yang disalahkan, bukannya ia menungguku belanja.

Lihat selengkapnya