Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #8

Bab 8 Hilang Kewarasan

Sebaliknya, jika aku memanggilnya atau memintanya membantu memindahkan keranjang sampah seperti waktu sore minggu lalu, ia abai saja seolah tak mendengar, meski kukatakan berulang kali. Akhirnya, aku memilih diam.


Rasanya tidak adil. Jika aku melakukan itu, ia menganggapku menyepelekannya, tetapi dia? Apakah dihargai hanya berlaku untuk seorang suami saja?


Aku melihat jam di ponsel sebentar, jam menunjukkan angka sebentar lagi Mas Jonas pergi bekerja. Aku pun ke kamar dan membangunkannya.


“Mas, Mas Jonas, bangun!” kataku dengan nada khas orang pulau emas. Beberapa kali barulah Mas Jonas bangun.


“Biasa aja, nggak usah teriak-teriak segala!” katanya, membuatku heran. Jantungku sudah berdetak cepat. Apalagi mata yang memerah itu menatapku tajam.


“Aku nggak teriak, kok, Mas.”


“Nggak teriak apanya? Kayak gitu kamu bilang nggak teriak.” Ia bersikeras. “Nggak punya adab kamu, nggak tahu sopan santun!”


Rasanya berdenyut-denyut dalam hati. Aku hanya berniat membangunkannya tanpa ada maksud apa pun. Aku bicara biasa menurutku.


“Sopan bangunin suami begitu?” Ia duduk di ambang pintu, menuntut penjelasanku sebelum mandi.


“Aku biasa aja, nggak teriak-teriak,” kataku lagi. Rasanya seperti ada awan hitam tiba-tiba memayungiku. Seolah langit yang tadi cerah, kini berganti mendung menggantung. 


Mas Jonas juga tidak peduli jika ada Ali yang melihat pertengkaran itu. Entahlah, aku benar-benar tak mengerti cara berpikirnya.


“Sopan kayak gitu sama suami?” Sorot matanya menuntut. Aku terdiam. Rasanya tubuhku menggigil lagi, panas dingin, tetapi dari luar tampak biasa.


“Sopan kayak gitu?” cecarnya.

Aku tak tahan melihat mata tajamnya yang seperti ingin mengulitiku. Akhirnya, aku mengalah.


“Iya, nggak sopan.” Aku tertunduk.


Lihat selengkapnya