Aku teringat kembali perkataan tetanggaku beberapa waktu lalu, membuatku merasa gagal. Aku mengepalkan tangan, marah pada diri sendiri.
“Sering-sering diajak ngomong, Lis. Lama-lama nanti Ali bisa ngomong. Jangan diam aja kamu tuh di rumah,” katanya.
Benar juga. Aku memang tak pernah mengajak Ali bicara. Anak itu hanya kuberi ponsel atau kubiarkan menonton televisi biar tenang. Sebab aku terlalu sibuk dengan perasaan dan sakit hatiku, sehingga aku lalai.
Aku pun tak tahu bagaimana caranya berbicara pada bayi dalam keadaan pikiran kacau. Otakku bahkan tak memiliki ide apa pun untuk topik pembicaraan, walau dari hal sederhana sekali pun.
Mainan pun tak ada untuk jadi media bermainnya. Apalagi aku tak sekreatif itu untuk membuatkan mainan. Aku hanya tenggelam dalam sedih dan rasa sakitku.
Muncul satu ingatan lagi yang semakin memperkuat keyakinanku bahwa aku benar-benar ibu yang buruk.
“Ali kecil banget, Lis. Kasih makan dong Alinya,” kata tetanggaku yang lain. Kala itu, aku sedang mengajak Ali jalan-jalan sore. Aku hanya tersenyum getir menanggapinya.
“Kasihan kamu, Ali. Punya ibu kayak aku,” gumamku sambil menatapnya yang sudah mulai berhenti menangis.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun dan mendapati Ali masih menonton televisi. Kartunnya sudah berganti. Celana anak itu juga sudah basah, aku segera menggantinya.
Setelah itu, kuraih ponsel dan melihat jam. Sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mencuci.
Hal seperti itu berlangsung hampir setiap hari. Ali menonton, sementara aku sibuk dengan perasaanku sendiri, seolah tak peduli pada Ali. Aku tidur, kadang juga bermain ponsel.
“Bagaimana kalian di rumah?” kata Mas Jonas suatu hari. Entah dia menaruh curiga atau apa, aku tak tahu. Tubuhku mulai seperti dialiri sesuatu. Rasanya panas dingin.
“Kami bermain,” jawabku berbohong.
“Kamu ajak ngomong, kan, Ali?”