Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #10

Bab 10 Elis Kayak Gitu, Sih

“Aku memang kayak gini kalau capek. Dari kecil udah kayak gini, kalau nggak gitu ...”


“Ya diaturlah napasnya itu, pelan-pelan,” potongnya.


“Tapi ...”


“Jangan dibiasakan kayak gitu! Diatur dong,” selanya lagi.


Aku memilih diam. Rasanya percuma, mau kujelaskan bagaimana pun Mas Jonas nggak akan mau tahu.


Waktu kecil aku punya sakit yang suka membuat napasku sesak, terutama saat kondisi memang sedang sakit. Tapi ... sekarang tidak lagi. Hanya saja, kalau dibuat berlari, rasanya masih suka agak sesak.


Aku merasa tak punya hak atas diriku, hidupku, bahkan bernapas pun sudah diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya. Tanpa mau tahu mengapa aku melakukannya, yang penting egonya terpenuhi.


Hari-hari terus berlalu, hingga tibalah saatnya Idulfitri. Orang-orang pada pulang kampung, termasuk aku dan Mas Jonas yang pulang ke kampungku.


Kurang lebih tiga jam menempuh perjalanan dari rumah sejak subuh, kami pun tiba di kampungku. Kami disambut oleh keluargaku, terutama ibuku yang heboh ketika melihat Ali, cucunya.


Namun, karena itu Ali menjerit dan menangis. Ibuku pun diam, heran melihat cucunya. Padahal, dulu sejak lahir hingga 40 hari, ibuku itulah yang mengurusinya, mengurusi Ali.

Ali menolak masuk ke dalam. Semua orang berpura-pura cuek agar Ali lebih tenang dan mau masuk ke rumah.


Suamiku membawa masuk tas baju dan juga oleh-oleh yang dibawa dari kota. Sementara aku berjalan ke belakang, di dekat dapur di bawah pohon rambutan. Ali diam di suasana yang cukup sepi itu. Angin berembus membawa hawa sejuk dari pepohonan yang ada di sana. Udara di desa terasa lebih segar daripada di kota.


“Makanlah kalau mau makan! Sudah matang ayam,” kata ibuku pelan, muncul dari pintu dapur. Ayam yang dimaksud adalah masakan kesukaanku. Makanya, setiap Lebaran atau anak-anaknya pulang, ibuku selalu memasak itu.


Lihat selengkapnya