“Jonas itu lembut, ya, Lis,” kata pria yang sedang menyetir itu. Aku diam saja, hanya menyunggingkan senyum hambar.
“Enak, ya, Jonas orangnya lembut. Kalau ngomong halus banget,” lanjutnya.
Apa maksudnya aku enak hidup dengan suami yang dilihatnya lembut itu?
Rasanya aku tak sanggup mendengarkan pujian untuk Mas Jonas yang terasa seperti ejekan untukku.
Justru perkataannya tadi membuatku miris melihat diriku sendiri. Dalam hati aku berkata, “Ya, di depan kalian semua, tapi di depanku, lidahnya penuh duri.”
Waktu terus berjalan dengan ritme yang sama. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan hari ini Ali sudah berusia tiga tahun.
Ali belum juga bisa bicara. Ia hanya bisa merengek kalau menginginkan sesuatu. Sudah sangat terlambat jika dibandingkan dengan teman seusianya.
Aku merasa sakit hati ketika salah satu tetanggaku mengatai anakku. Pagi-pagi saat aku membeli jamu kepadanya. Kebetulan, ia memang pedagang jamu.
“Neee, Ali bodoh belum bisa ngomong,” ucapnya sambil menyiapkan jamu pesananku. Sesekali matanya menatap Ali yang melompat-lompat tak jelas di teras rumah tak jauh dari tempat kami.
Seperti biasa, tak ada yang bisa kulakukan selain diam, menelan perasaan yang muncul sendirian.
“Di sekolah cucuku ada juga anak kayak Ali ini. Akhirnya dia berhenti sekolah, guru nggak sanggup. Idiot dia itu,” katanya lagi.