Dokter juga mengatakan, jangan berikan lagi makanan instan seperti mie, teh, atau kopi. Itu sangat berbahaya. Dokter juga meminta agar kami berhenti memberikan ponsel atau sejenisnya karena itu bersifat pasif, hanya satu arah. Anak hanya menonton dan mendengar, tetapi tidak berinteraksi dua arah.
Kulihat Mas Jonas mengangguk-angguk setuju saja. Padahal, selama ini suaraku tentang hal itu ia abaikan. Mungkin dipikirnya aku tak cukup pintar untuk dipercaya.
Setelah selesai konsultasi, kami pun pergi ke apotek untuk menebus obat yang diresepkan oleh dokter. Selesai menebus resep yang harus menunggu cukup lama itu, kami pun pulang.
Di perjalanan, Mas Jonas memberian arahan tentang apa yang dikatakan dokter tadi. Aku hanya menjawab iya, iya saja.
“Apa tadi, coba?” katanya, memastikan aku tidak melupakan apa yang dikatakan dokter.
Aku mengembuskan napas berat di belakang punggungnya. Mulai lagi dia berlagak seperti sedang memberikan ujian.
Aku menyebutkannya kembali, tetapi ternyata ia belum puas. Mungkin jawabanku tidak sama persis dengan yang dikatakan dokter tadi.
“Aku hanya menangkap poin pentingnya saja. Obrolan-obrolan lainnya aku lupa,” jawabku.
“Kebiasaan kamu, tuh,” gumamnya.
Pikirku, tidak terlalu penting mengingat obrolan-obrolan selingan yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang disampaikan dokter tadi. Saat itu juga kepalaku terasa sesak karena tak mampu mengingat semuanya.
Esok pagi, setelah selesai menyuapi Ali makan, aku mau memberinya obat yang kami tebus kemarin. Cukup banyak.
Aku memasukkan pipet obat ke dalam botol sirup, lalu memberikannya pada Ali. Ini pertama kalinya aku memberikan Ali obat seperti itu. Aku gugup.
Karena ini baru pertama kali, Ali menolak. Ia memaling-malingkan wajah. Aku tetap berusaha dengan mata Mas Jonas yang terus mengawasi. Perasaanku campur aduk. Aku tahu Mas Jonas tak suka jika anaknya menangis. Dan aku tahu arti tatapan matanya, berikan obat, jangan sampai anakku menangis!
Aku berhasil memasukkan pipet ke dalam mulut Ali. Saat kutekan karet di atas pipet obat itu, Ali memberontak sehingga sirupnya separuh masuk ke mulut, sisanya masuk ke hidung. Ali terbatuk-batuk.