Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #13

Bab 13 Ngomonglah!

Tak lama setelahnya, Mas Jonas mengajakku keluar, membeli semangka katanya. Aku menurut saja. Sebenarnya aku malas keluar karena aku malu dilihat orang dengan mata sembabku.


Ali sudah duduk manis di depan. Aku pun naik ke motor. Sebelum jalan, tiba-tiba Mas Jonas menoleh dan mengatakan sesuatu yang membuatku merasa jijik.


“Cium!” pintanya sambil menyodorkan pipinya.

Hatiku merasa tak sudi.


Aku melihat-lihat sekitar, takut ada orang. Bagaimanapun, aku merasa malu. Lagipula, kami tak seromantis yang terlihat. 


Aku mengecup pipinya dengan terpaksa. Kalau bisa dilihat secara kasatmata, mungkin ruhku sedang mendorongnya menjauh.


Entah apa yang ingin ia tunjukkan? Di tengah jalan meminta hal seperti itu. Apakah citra suami penyayang agar aku dianggap perempuan beruntung?


Kompleks tampak sepi. Belum lagi matahari terasa cukup menyengat kulit. Motor akhirnya melaju, perasaanku hampa. 


Tak terasa, sebulan sudah berlalu. Kami kembali berkonsultasi. Setelah Mas Jonas menceritakan kepada dokter bagaimana progres Ali, hasilnya cukup baik. Ali sudah bisa mengeluarkan kata, walau baru hanya kata “makan”. Untuk berat badannya, mulai ada penambahan walau belum mencapai berat yang sesuai usianya. Aku senang dan sedikit lega.


Tentu saja Mas Jonas sudah meminta aku menceritakan apa yang sudah kukerjakan di rumah bersama Ali, seperti orang yang meminta laporan. Bukan aku sendiri yang bicara. Entahlah, ia seakan tak percaya padaku.


Untuk mengejar berat badannya, setiap hari Ali kuberi lauk telur. Setiap pagi, sarapannya wajib ada telur. Aku juga setiap pagi membelikannya nasi uduk karena Ali suka dan tidak terlalu banyak drama.


Dokter mengatakan Ali harus lebih banyak lagi diajak bicara. Kalau misalnya sedang jalan, ada benda apa pun, sebut saja namanya.


Misalnya melihat ayam, pohon, bunga, dan apa pun itu. Ulangi saja terus, nanti lama-lama Ali akan ingat. Aku dan Mas Jonas mengangguk-angguk paham.


Lihat selengkapnya