Pagi ini, setelah membeli nasi uduk yang dijual tetangga, aku pun membuat orak-arik telur, yang merupakan lauk wajib anak itu.
Aku menyuapi Ali, tetapi Ali menolak makan. Kupaksakan, biasanya ia telan walau butuh waktu yang cukup lama. Namun, hari ini tidak.
Mungkin saja ia bosan setiap hari sarapan menu nasi uduk dan telur orak-arik. Salahku tak kreatif membuat makanan, sesalku.
Aku masih berusaha, Ali sampai menangis. Mas Jonas terbangun.
“Kenapa Ali nangis?” tanyanya. Kepalaku mulai terasa berat.
“Ali nggak mau makan,” jawabku seadanya.
“Ya cari-cari cara gimana, gitu. Ajak keluar atau ke mana kek. Anak kok dibuat nangis,” tukasnya.
Aku pun berdiri, mengambil sepatu Ali dan memakaikannya. Membawa piring, lalu pergi ke luar rumah.
Aku menyuapi Ali sambil jalan, bertemu orang-orang, terkadang menyapa, menanyakan rumah kami di mana. Ali sangat menikmatinya, makannya cukup lancar meski sesekali merengek ketika aku memaksanya. Ia sambil melihat pohon, kucing, memetik bunga dan banyak lagi.
Bodohnya, aku tak kepikiran ide sesederhana ini, pikirku. Dan yang paling penting, Mas Jonas tak mendengar rengekan Ali yang membuatnya marah padaku.
Akhirnya, setiap pagi, aku menyuapi Ali sambil berkeliling kompleks. Orang-orang yang awalnya tak kenal kami karena aku memang jarang keluar rumah, akhirnya jadi tahu. Dan kalau Ali sudah lewat, tandanya hari sudah siang, kata mereka.
Suatu pagi, badanku terasa agak aneh, sedikit pegal-pegal. Mungkin karena sebentar lagi sepertinya mau datang bulan.
Aku berkeliling sambil membawa piring, mengikuti Ali yang seperti sudah hafal rute jalan kompleks. Tangannya tak lupa memetik bunga-bunga atau daun yang menarik menurutnya. Ia juga berhenti kalau ada sarang laba-laba di atas got.
Matahari mulai lebih tinggi, sinarnya hangat. Kami seperti olahraga pagi.
“Pantas saja ibunya Ali tidak gemuk-gemuk badannya, tiap hari dibawa jalan sama Ali,” canda mereka.