Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #15

Bab 15 Istri Milik Suami

Makan di rumah aja, Li. Mau hujan,” katanya, menyuruh kami pulang. Tangannya sibuk membuatkan pesanan kami.


“Nggak apa-apa. Ali kalau di rumah malah nggak mau makan,” sahutku lalu berlalu dari warungnya. Angin berembus pelan, menerpa dan mengiringi langkah kami.


Kami mulai berjalan memasuki lorong demi lorong sambil menyuapi Ali. Beberapa tetangga menyapa dan memperingatkan sepertinya hari akan hujan. Aku hanya menjawab iya saja sebagai jawaban.


Aku lebih suka berada di luar rumah, rasanya napasku lebih lega. Ali mau merengek atau menangis sekali pun karena aku memaksanya makan, aku merasa aman, merasa tak diawasi dan bebas dari teror. 


Benar saja, tak lama, gerimis mulai turun. Aku dan Ali mulai mencari tempat berteduh. Ingin rasanya ke warung nenek yang tadi kami lewati, tapi jaraknya terasa jauh karena butir air dari langit perlahan mulai deras.


Akhirnya aku mengajak Ali berteduh di teras sebuah rumah kosong, di depan rumah Pak RT. Untung saja rumah itu tidak dipagar. Terasnya memiliki kanopi, yang membuat kami cukup aman berlindung di bawahnya.

Semakin lama hujan pun makin deras. Syukurnya tak ada petir. Tetapi aku merasa aman ada di sana. Ali terus kusuapi sambil ia bermain.


Ada Pak RT yang sedang sarapan, terlihat dari pintu depan rumahnya. Ia menganggukkan kepala sebagai tanda sapaan dan aku pun membalasnya.


Lama-lama, hawa dingin mulai merayap. Aku melihat Ali, anak itu biasa saja. Seperti tak kedinginan. Kakiku agak basah terkena percikan air, sebab aku berdiri di arah sisi luar sementara Ali di dekat dinding. Daster bagian bawahku terasa lembap.


Sebenarnya aku bisa saja pulang ke rumah, mengingat rumah kosong itu letaknya di belakang rumahku. Tinggal berputar lewat jalan bagian belakang dan melewati beberapa rumah saja sudah bisa sampai. 


Tapi, aku lebih memilih sedikit basah dan dingin dibanding harus mendengarkan cacian Mas Jonas.


Lihat selengkapnya