Entah sudah berapa lama, aku tersadar saat suara motor Mas Jonas mendekat. Dan benar saja, tak lama pintu diketuk. Tetapi kali ini perasaanku tak bisa kuredam seperti biasa.
Aku membuka pintu dengan wajah masamku tanpa bicara apa pun. Aku membuatkan kopi, lalu duduk di atas kasur yang dibentangkan Mas Jonas di ruang depan. Ia pindah tidur di ruang depan karena Ali suka rewel, katanya kalau ia di depan mungkin Ali tak rewel lagi.
Wajahku menampakkan kemarahan.
Bayangan itu belum mau pergi dan malah semakin liar menyerang kewarasanku. Sudut mataku memanas.
“Kamu kenapa, Ma?” tanyanya lembut. Pertanyaan yang memuakkan untuk luka hatiku yang menganga ini. Aku tetap diam.
“Kamu kenapa, sih? Kok diam aja?” katanya. Aku masih betah dengan kebisuanku. Ia duduk menghadapku.
“Saya punya salah?” tanyanya.
Aku menatap wajahnya sekilas, lalu memalingkan wajah dan tersenyum sinis tipis. Pertanyaan seperti apa itu? Dengan lukaku yang sebesar ini, ia masih bertanya apakah ia punya salah? Aku jadi memahami sesuatu sekarang.
“Saya punya salah?” ulangnya, terlihat frustrasi. “Saya minta maaf kalau saya punya salah,” lanjutnya. Aku tetap diam. Hatiku tak bisa menerima maafnya.
“Ngomong dong biar saya tahu salah saya di mana? Jangan diam aja, saya nggak tahu,” katanya.
Aku semakin muak mendengarnya, ditambah ekspresinya tampak putus asa. Aneh, aku belum pernah melihat ekspresi it di wajah yang biasanya bengis. Mulutku masih bungkam.
“Ngomong, Ma. Saya nggak tahu salah saya apa kalau kamu diam aja.” Mas Jonas merendahkan suaranya, sambil menatap wajahku yang membeku.
“Ya Allah, saya tuh nggak tahu kamu kenapa?” Mas Jonas benar-benar putus asa. Aku masih bergeming seperti patung.