Kuhitung uang di dompet, kuperkirakan ongkos ojek online yang mengantarku ke terminal dan bus yang membawaku ke kampung halamanku.
Hari itu belum terlewati, tetapi pikiranku sudah di kampung. Membayangkan ayah, ibu, adik-adik, dan kehangatan di tengah-tengah mereka. Kunci rumah akan kutitipkan kepada tetangga, pikirku.
Hari ketiga, kebetulan hari itu jadwal Ali terapi, waktunya pagi. Aku dan Ali sudah rapi. Aku belum pasti, pulang kampung atau pergi terapi.
Aku melihat jam di ponsel. Angkanya semakin dekat dengan jam masuk terapi Ali, tetapi Mas Jonas belum muncul juga. Aku mau bersiap membereskan baju saja, pulang kampung, pikirku.
Tak lama, pintu diketuk keras. Segera kubuka pintu. Mas Jonas berdiri di depan dengan wajah angkuhnya. Rasanya hawa sekitar terasa panas, kepalaku kembali berat.
“Masuk, Mas,” kataku basa-basi. Setelahnya aku diam dan kembali ke kamar menghampiri Ali.
Ia duduk di ambang pintu kamar, ekspresi wajahnya seperti mau marah, mata tajam menuntut sesuatu dan mulutnya diam.
Apa yang ia harapkan? Ingin aku minta maaf karena kejadian beberapa malam lalu dan aku mengaku salah? Tidak akan! Hancur, ya hancur, pikirku. Aku tak mau lagi mengalah. Nyatanya, dua hari tanpanya aku merasa tenang, hidupku damai.
“Kamu masih aja, padahal saya sudah senang tadi pas kamu sapa saya waktu buka pintu,” katanya memulai pembicaraan.
Aku diam, pura-pura sibuk dengan Ali. Kalau ia senang, mengapa tak ditanggapi? Wajahnya saja tidak bersahabat dan berharap aku beramah-ramah padanya, tidak! Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah tahu rasanya diinjak ketika aku mengalah, menelan dan memendam perasaanku sendiri.
“Saya pulang karena Ali mau terapi,” katanya. Aku masih diam. Aku sudah tahu itu. Tak mungkin karena aku.
Setelahnya, Mas Jonas diam cukup lama seperti berpikir. Matanya melekat padaku. Aku masih melihat kilatan amarah di sana.
Mungkin karena aku tak kunjung luluh dan minta maaf padanya? Aku sudah tekadkan, kali ini aku tak mau mengalah, apa pun keadaannya, meski rumah tangga ini hancur sekali pun.