Perempuan yang Memilih Bertahan

Dara Kirana
Chapter #18

Bab 18 Jangan Buat Malu

“Kamu nggak benci saya, kan?” tanyanya. Ia mengusap air matanya yang hampir keluar lagi. 


“Enggak,” jawabku pelan. Aku pun tak tahu, hati ini membencinya atau tidak. 


“Kamu cuma benci sifat saya, kan?” tanyanyan lagi. 


“Iya,” jawabku lagi. Meski aku sendiri tak tau benar atau tidak. 


“Berarti kamu nggak benci saya?”


“Iya,” jawabku lagi. Hampa. 


Ia kemudian mendekat dan memeluk tubuhku. Sementara aku hanya mematung. pelukan itu tidak membuatku merasakan apa-apa.


“Saya gagal,” katanya, pelukannya semakin erat. Ia tergugu.


“Saya sudah gagal,” suaranya serak, aku tak perduli.


Setelahnya Kami berangkat menggunakan motor ditemani matahari yang terasa menyengat di kulit. 


Setelah menempuh perjalanan cukup lama karena terkendala hujan yang tiba-tiba turun di tengah jalan, akhirnya kami sampai juga.Kami disambut oleh orang tuaku yang terkejut karena kedatangan kami tiba-tiba.


Aku masuk membawa tas pakaian. Aku berinteraksi dengan keluarga seperti biasa, tetapi diam kalau dengan Mas Jonas.


Di dalam kamar, aku duduk di kasur habis menggantikan celana Ali. Mas Jonas masuk dan duduk di hadapanku dan menatapku sendu, tak sorot mata bengisnya seperti sebelum-sebelumnya. Mulutku tetap membisu, sambil merapikan beberapa baju Ali yang lipatannya terbongkar. Rasanya aku tak ada energi untuk bicara padanya. 


Kemudian ia beralih menatap Ali yang bermain, mengambil sesuatu di dekat dinding. Cukup lama ia amati anak itu. 


Lihat selengkapnya