Perempuan yang Menantang Ombak

Sari Dewi Widiastuti
Chapter #1

Prolog

Prolog

Tidak ada yang berubah dari sosoknya selain wajahnya yang semakin cantik. Kini wajah itu nampak lebih cerah. Pipinya mulai berisi, bibirnya yang biasanya pucat mulai ranum. Peristiwa beberapa tahun silam, nampaknya sudah mulai kabur dari ingatannya, dan tidak meninggalkan jejak pada alam bawah sadarnya. Tahun-tahun berlalu telah membentuk dirinya menjadi sosoknya yang lebih dewasa, mampu berfikir jernih dan mengerti apa yang semesta ingin kan dari dirinya.

Di depannya, laki-laki yang nampak menua dan beruban nampak sedang bercakap-cakap dengan dua orang perempuan yang sepertinya tidak jauh berbeda usia. Mereka seperti sedang mebicarakan sesuatu yang sangat penting dengan dahi yang sama-sama berkerut, beberapa kali mereka tertawa renyah. Tiba-tiba perempuan berselendang datang sambil membawa satu nampan berisi minuman hangat. Mereka pun terlibat percakapan seru. Seperti tidak peduli dengan sekelilingnya.

Luka-luka masa lalu terkadang masih dirasakannya, namunmasih ada perempuan muda itu lebih memilih untuk berdamai. Betapa kehidupan mengajarkannya banyak hal, bahwa terkadang hidup tidak semuanya hitam putih, bahkan sama sekali tidak berwarna. Tugasnya lah untuk selalu kuat dan tegar.

“Meme, kenapa Trisha tidak boleh makan permen manis?” Seorang anak perempuan berkepang tiba-tiba memanggilnya, dan membuyarkan lamunannya.

“Luh ingat, apa yang terjadi pada gigi Luh kalau sering makan manis?” Perempuan itu balik bertanya.

“Iya sih kadang bisa sakit gigi, tetapi kan Trisha selalu sikat gigi.” Ucapnya sambil merajuk.

Perempuan itu nampak berfikir, jarinya dijentik jentikan ke dagunya.

“Ah, Meme lama kalo mikir,” Trisha melotot sambil membalikkan badan melengos kesal, mukanya cemberut.

Chentana buru-buru menangkapnya dan mencubit pipinya pelan, “Jangan pernah menghilang dari mata Meme, sebelum Meme selesai.” Ucapnya sambil memasang wajah berpura-pura serius

“Jadi gimana Meme, boleh?” dibalikkannya lagi badannya sambil menatap Chentana dengan wajah penuh harap. Nampak dibelakangnya dua anak kecil nampak memasang wajah cemas.

Chentana menganggukkan kepala, bocah kecil itu nampak kegirangan, disusul kedua adiknya yang meloncat-loncat.

“Ingat ya, satu hari hanya dua saja” tegasnya. Chentana menunjuk kedua anaknya yang lain. Ia tahu, bahwa Trisha sebagai anak sulung, pasti akan selalu menjadi jubir dari kedua anaknya yang lain.

Bocah perempuan itu langsung memeluk dan mencium Chentana. Lalu ia menggandeng dua bocah laki-laki lainnya yang sedari tadi mengekor dibelakangnya, sambil berteriak teriak kegirangan. Chentana yang gemas lalu menangkap kedua anak laki-lakinya sambil mencium anaknya dengan cepat. Menatap ketiganya dan merengkuhnya dengan mata berair.

“Meme, ngga perlu sedih, nanti aku sisakan untuk Meme juga ya,” ucap Ganesh anaknya yang paling kecil dengan wajah sumringah. Diselipkannya dua permen di kantong baju Chentana.

Chentana tertawa, tetes airmatanya mengalir tanpa bisa terbendung lagi.

Trisha, Daraka, dan Ganesh ketiga bocah lucu itu hadir sebagai penyelamat dalam kehidupan Chentana. Mereka adalah imun terkuat yang membuat seorang Chentana lebih kuat dan tabah. Namun terkadang, ingatan dan memori tentang laki-laki itu selalu membayang ketika ia menatap wajah ketiga anaknya. Seolah-olah laki-laki itu berubah menjadi sosok yang lebih kecil dan menghantuinya. Masa-masa kelam dan suram seperti hadir lagi, dan mencoba menarik mundur dirinya ke masa lalu. Ada rasa bersalah yang menghimpitnya, walau sebegitu kerasnya ia menghalau, tetapi ia harus dan selalu mencoba untuk kuat.

Lihat selengkapnya