Chapter 1
Chentana mematut-matut diri di depan kaca, kaos berwarna merah muda berukuran longgar, yang dipersiapkannya sejak semalam, serta kain sutra berwarna merah muda sudah dipakainya. Chentana masih tidak habis pikir hanya karena masalah pakaian, ia harus berdebat dengan dengan Meme semalam.
“Tugeg1 harus sadar diri darimana Tugeg berasal, dari kasta mana Tugeg lahir.” Perempuan bernama Ida Ayu Sekar yang masih tampak cantik walau sudah berumur, seseorang yang Chentana hormati, karena dari rahimnya ia lahir, menatapnya serius sambil mengamati setiap inchi baju yang akan Chentana pakai.
“Tiang sudah besar Meme, tidak usaha khawatir,” ucap Chentana sambil merebahkan badannya di ranjang.
“Jangan membalikkan punggung itu tidak sopan.”
Chentana bangkit, dan menatap dalam-dalam wajah ibunya.
“Ada apa lagi Meme sayang, tiang harus segera tidur, besok hari besar tiang.”
“Menjadi perempuan Brahmana tidak bisa sembarangan, Tugeg harus mematuhi banyak aturan, ini untuk kebaikan Tugeg sendiri.Karena tidak semua perempuan mendapatkan titisan dari para Dewa, jaga wibawa, berpakaian tidak boleh ketat, harus anggun, pakai kain dan harus rapi!” Suara Ida Ayu Sekar makin meninggi.
“Rumit sekali.” Chentana merenggut dan memeluk gulingnya erat.
“Tidak ada yang rumit. Kelak Tugeg akan menjadi perempuan dewasa, banyak pengalaman yang akan Tugeg alami, salah satunya mencari laki-laki yang Tugeg akan cintai sepenuhnya.”
“Meme….”
“Percayalah dengan apa yang Meme katakan,” ungkapnya sambil mengusap anak rambut putri kesayangannya.
Sejenak perempuan itu terdiam. Chentana memperhatikannya dengan seksama, raut wajah Ibunya yang berubah.
“Meme, ada apa?”
Ida Ayu Sekar menggeleng dan berkata dengan suara lirih, “Tugeg, kalau meme minta kamu tidak ikut acara tersebut bagaimana” Wajah Ida Ayu Sekar nampak khawatir.
Chentana tersenyum dan memeluk Ibunya erat, “Meme tidak usah khawatir ini hanya tradisi, lagi pula tidak akan terjadi apa-apa,” ucapnya yakin. Tidak biasanya meme penuh kekhawatiran.
“Tugeg, teman-temanmu sudah datang,” Suara Ida Ayu Sekar terdengar nyaring, lebih dari cukup untuk membuyarkan lamunannya.
“Ya, Meme, sebentar”