Perempuan yang Menantang Ombak

Sari Dewi Widiastuti
Chapter #3

Chapter 2

Pagi yang hangat, matahari menyembul dari balik pepohonan, menebarkan cahaya keemasan yang jatuh di halaman griya. Embun masih menempel di ujung daun kamboja. Beberapa orang tampak sibuk menyiapkan perlengkapan upacara sejak pagi buta. Suara sapu lidi bergesekan dengan batu halaman terdengar pelan, bercampur desir kain dan denting kecil bokor kuningan yang saling bersentuhan.

Aroma dupa mulai memenuhi udara.

Di bale dangin, seorang perempuan muda duduk bersila dengan kain kamen rapi membungkus tubuhnya. Di depannya terhampar janur muda, bunga cempaka, sandat, dan jepun dengan warna-warna terang yang menyegarkan mata. Perempuan itu tampak tekun mejejaitan-menyusun janur dan bunga menjadi canang sari, jari-jarinya lincah menyusun dan merangkai satu persatu dengan penuh hati-hati. Pelan-pelan di bentuknya lipatan demi lipatan kecil. Sesekali ia merapikan ujung janur yang terlepas menggunakan kuku jarinya.

             Beberapa bunga-bunga berwarna-warni merah menyala, putih lembut, biru keunguan, dan kuning cerah tersusun rapi dalam nampan. Aroma harum bunga semerbak memenuhi ruangan bercampur dengan wangi janur muda yang baru di potong.

Chentana tekun dan tenang, tak dihiraukannya cahaya pagi yang bersinar melalui sela-sela jarinya yang bergerak cepat. Namun, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya pikirannya sedang berlarian entah kemana.

“Pelan-pelan Tugeg, pada setiap bunga ada tempatnya sendiri,” ucap Ida Ayu Sekar yang sejak tadi mengamati Chentana.

Gadis itu menoleh, semilir angin menyibakkan rambutnya yang panjang terurai hingga melewati bahu. Mulutnya mengerucut kecil, seperti tidak terima di tegur.

“Tiang tahu, meme,” ucapnya kesal. Ia selalu mengingat ajaran itu sejak kecil—bahwa membuat persembahan bukan sekadar menyusun bunga, tetapi juga menata hati. Tetapi, yang terjadi saat ini hatinya justru yang paling sulit untuk ditata. Sejak semalam, matanya sulit sekali terpejam, bayangan laki-laki yang ditemuinya saat festival omed-omedan terus datang tanpa diminta.

Sampai- sampai Chentana kesulitan memusatkan pikirannya pada canangnya. Masih diingatnya bagaimana laki-laki itu menatapnya di tengah keramaian. Bahkan ketika gadis itu dan Wayan berdekatan, sorot matanya, garis rahangnya yang tampak jelas, masih terekam di memorinya dengan baik.

Ida Ayu Sekar memandang putri semata wayangnya lembut. Ia tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan gadis itu.

“Ada yang Tugeg pikirkan?” tanyanya lembut.

Chentana terdiam, tangannya masih sibuk mengambil bunga cempaka putih, dan meletakkan di tengah canang. Angin pagi berhembus pelan.

Tanpa sadar, gerakannya tangannya terhenti.

Aroma bunga cempaka yang menyeruak seperti bercampur pada ingatan samar tentang aroma tubuh Wayan yang masih diingatnya dengan sangat jelas.

Senyum Wayan tiba-tiba hadir.

Rengkuhan tangannya.

Dadanya yang hangat.

Menimbulkan sensasi tersendiri yang masih dirasakannya hingga hari ini.

“Kenapa berhenti?”

“Tidak apa-apa Meme?” jawabnya cepat.

Sial, tanpa sadar Chentana salah menaruh bunga. Sebuah kelopak merah yang harusnya ditempatkan di sisi barat, malah jatuh ke pangkuannya. Gadis itu buru-buru membetulkannya sebelum ibunya menyadari kekeliruannya.

Pipinya terasa hangat, meskipun udara pagi masih dingin. Namun senyum kecil yang tiba-tiba muncul di sudut bibirnya sulit disembunyikan.

Ida Ayu Sekar memperhatikan itu beberapa saat lebih lama. Seperti ada yang sesuatu yang berbeda pada sorot mata anaknya pagi itu, ia tidak pernah melihatnya sebelumnya. Hal yang membuatnya hatinya cukup gelisah, walau perempuan itu tidak tahu ada apa sebenarnya.

*********************

Dalam hidup Chentana yang sudah beranjak dewasa, banyak hal yang sering mengganggu pikirannya. Beberapa paham yang tidak begitu ia mengerti seperti memaksanya mengikuti aturan tanpa pernah diberi kesempatan bertanya.

Tentang keturunan.

Tentang kasta.

Tentang bagaimana seseorang harus bersikap terhadap orang lain hanya karena lahir dari keluarga tertentu. Chentana tidak habis mengerti pada aturan yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal. Karena hakikatnya manusia bahkan tidak bisa memilih ingin dilahirkan dari keluarga mana.

Lalu kenapa dunia sibuk menentukan siapa yang pantas dihormati lebih dulu?

Tidak dipungkiri, bahwa sedari kecil, ia dan keluarganya hidup di sebuah griya yang besar dengan suara mantra, bau dupa yang memenuhi setiap sudut rumah. Setiap orang menatap dengan penuh hormat, sebuah keluarga yang terlihat sempurna. Bahkan nyaris tanpa cela.

Namun semakin besar, Chentana justru semakin merasa asing di rumahnya sendiri.

Selain meme yang begitu mengagungkan nilai-nilai kebangsawanan yang dimilikinya, Chentana harus berhadapan dengan Ida Bagus Abipraya Chandrakumara, seorang laki-laki kasta Brahmana yang harus dipanggilnya Aji. Ayah.

Sebuah panggilan terhormat untuk laki-laki yang sudah menikah dan punya anak. Panggilan yang sebenarnya membuat lidah gadis itu seperti mati rasa.

Siapa yang tidak kenal dengan laki-laki paruh baya, berbadan tegap, dengan rahang tegas dan penuh wibawa itu? ia seorang pemuka agama yang dihormati masyarakat. Dalam setiap upacara, orang-orang selalu menundukkan kepala ketika berbicara dengannya.

Setiap orang mengenalnya sebagai orang yang bijaksana dan penuh kharisma. Namun, Chentana sangat tahu, seperti apa sosok dibalik seorang Ida Bagus Abipraya. Ia seperti musang berbulu domba-berlagak alim tapi penuh kemunafikan.

Chentana melihat sendiri bagaimana laki-laki itu secara diam-diam membawa seorang perempuan ke kamar saat malam semakin larut. Malah, terkadang gadis itu mencium aroma alkohol, dan menemukan botolnya di ruang tengah. Apalagi ketika Ayahnya datang membawa teman-temannya, suasana rumah berubah bising dengan suara tawa yang terdengar keras hingga larut malam. Sangat kontras dengan suaranya yang bernada lembut saat memimpin doa di pura dan sangat jauh dari kriteria sosok yang menjadi pujaan dan panutan banyak orang.

Lihat selengkapnya