Luh Pandita, siapa yang tidak kenal dengan guru tari yang dahulu memiliki tarif mengajar paling mahal. Seorang perempuan yang tetap terlihat segar dan cantik walau usianya sudah meranggas kepala 5. Garis-garis halus mulai tampak di sudut matanya, tetapi tubuhnya masih tegak dan gerakannya tetap luwes seperti penari muda. Dahulu dia pernah diminta untuk mengajar sekolah seni, dan akan dibayar mahal tetapi Luh Pandita menolaknya. Dia lebih baik mengajar di desa, ketimbang hanya mengajar anak-anak yang tidak memilki jiwa menari, mereka belajar hanya untuk lulus. Bagi seorang Luh Pandita setiap gerakan dalam menari memiliki jiwanya tersendiri, hingga sebuah gerakan yang salah dapat merusak jiwa tarian. Tatapannya selalu tajam memperhatikan setiap hentakan kaki, lengkungan jemari, hingga arah mata para muridnya. Banyak penari tersohor lahir dari tangan dinginnya.
Setiap orang yang menonton pertunjukan Luh Pandita, merasakan hal yeng berbeda, suara tetabuhan gamelan terasa lebih hidup, lebih memiliki jiwa.
Fakta lain yang juga diketahui banyak orang, perempuan itu adalah satu-satunya sahabat dekat seorang Ida Ayu Sekar meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh. Sejak muda, keduanya menari bersama dan bersekolah di tempat yang sama. Ada yang pernah berkata bahwa mereka seperti dua bayangan yang tidak bisa dipisahkan.
Di mana ada Luh Pandita, di situ ada Ida Ayu Sekar.
Ida Ayu Sekar menjadi sosok yang berbeda ketika bersama Luh Pandita, ia bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu menjaga wibawanya sebagai seorang bangsawan.
Sebagai anak tunggal yang dibesarkan dalam banyak aturan, Ida Ayu Sekar menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumahnya sendiri pada sosok Luh Pandita—tempat untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
“Luh, mungkin kita dahulunya adalah saudara,” ucap Ida Ayu Sekar suatu hari. Luh Pandita tersenyum kecil lalu menggenggam tangannya erat.
“Aku pun merasakan hal yang sama. Apa pun yang engkau butuhkan, aku akan mengusahakan yang terbaik.”
Masa itu, mereka masih belum memahami bahwa hidup tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Orang tua Ida Ayu Sekar merasa gelisah dengan kedekatan antar mereka berdua. Perbedaan kasta adalah penyebabnya, Ida Ayu Sekar yang seorang Brahmana dianggap tidak pantas bergaul dengan Luh Pandita yang hanya seorang sudra yang orangtuanya berjualan makanan di pasar, sangat jauh dibandingkan Ida Ayu Sekar.
Awalnya sebuah teguran kecil, lalu tatapan tidak suka, hingga sebuah larangan yang tidak secara langsung diucapkan, tetapi cukup untuk membuat jarak tumbuh di antara mereka. Dan, Ida Ayu Sekar memilih untuk mengikuti aturan keluarganya.
Walaupun begitu, ia tetap menyayangi Luh Pandita sebagai sahabatnya.
Bagi Luh Pandita, hal yang paling menyakitkan adalah bukan perpisahan itu sendiri, melainkan cara semuanya terjadi pelan-pelan tanpa bisa dicegah siapapun. Namun perempuan itu terlalu memahami bagaimana dunia bekerja pada perempuan seperti Ida Ayu Sekar, dan bahwa melawan keluarga memerlukan sebuah keberanian besar.
Luh Pandita memilih diam, menerima, namun ia menjadi bagian dari kehidupan seorang Ida Ayu Sekar walau tidak sedekat dulu, termasuk ketika sahabatnya itu meminta dirinya mengajari putri semata wayangnya menari. Perempuan itu berjanji membantu membentuk Chentana menjadi putri bangsawan yang mampu menyesuaikan diri di mana pun berada.
“Aku juga adalah ibumu, Chentana,” ungkapnya sambil menatap gadis itu.
Sebuah suara yang bagi Chentana tidak terdengar besar ataupun dramatis, justru tenang seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan kasih sayang yang lama terpendam dan tidak terungkapkan.
“Suatu hari nanti kamu akan menjadi putri bangsawan paling cantik di jagat ini.”
Dan seperti biasa Chentana hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. Namun, gadis itu menyadari bahwa Luh Pandita memperlakukannya berbeda lebih dari sekedar murid tari.
Bagi Chentana, Luh Pandita dan Ida Ayu Sekar adalah dua perempuan yang terlalu tunduk pada aturan. Keduanya seperti hidup dalam aturan yang ditentukan bahkan jauh sebelum mereka lahir. Gadis itu tidak mengerti mengapa semua orang disekelilingnya seperti takut untuk keluar dari adat dan tradisi yang diwariskan generasi sebelumnya.
Sampai-sampai sebuah kebahagiaan harus menunggu izin dan persetujuan banyak orang.
Ia sering mendengar orang-orang berbicara tentang kehormatan keluarga, tentang menjaga darah bangsawan tetap murni, tentang perempuan yang harus tahu tempatnya.
Tetapi tidak ada yang pernah bertanya apakah semua itu membuat seseorang benar-benar bahagia.
Semakin besar, Chentana justru merasa adat dirumahnya lebih sering digunakan untuk menahan daripada menjaga.
*******************************************