Tidak seperti keberuntungan, ketidakberuntungan jalan hidup setiap orang tentu saja berbeda-beda satu dengan yang lain.
Rita menatap lurus ke depan melihat kaca bening dengan debu yang menempel sebagai pembatas ruang tunggu dengan laut yang tampak tenang di luar sana. Siang hari seperti malam manakala terlihat dari dalam ruangan. Hal itu bisa terjadi karena warna kaca hitam yang membuat cuaca di luar gelap. Begitu juga ketika orang-orang berjalan melewati jembatan panjang di tepi dermaga menuju ruang tunggu, hanya akan melihat kaca hitam, meskipun ada orang-orang yang menunggu.
Di dalam ruang tunggu pebabuhan, puluhan kursi tunggu warna biru terisi penuh. Sebagian orang yang tak dapat tempat duduk, memilih berdiri, terutama laki-laki sambil merokok. Agak kebelakang, berjejer kursi-kursi kayu berwarna biru yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang ingin merokok dan menjauh dari keramaian.
Rita mengalihkan pandangan ke Idris, bocah laki-laki yang baru berusia enam bulan yang, nyenyak tertidur dalam gendongannya. Pipinya penuh, seperti menyimpan makanan yang enggan ia bagikan kepada siapa pun, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. Rita mendekatkan wajah, mencium idris. Ada wangi harum minyak telon yang lekat di tubuh bayi itu. Rita menggoyang-goyangkan tangan pelan. Tangan Idris merapat erat ketika ia ulurkan ujung telunjuknya.
Rita merasakan matanya berkaca-kaca tanpa ia maui.
Rita melirik jam dinding bulat dengan dasar warna putih yang menempel di tembok ruang tunggu. Pukul 12.45. Masih ada lima belas menit sebelum kapal yang akan ia tumpangi tiba. Sebentar kemudian ia kembali melirik jam dinding. Ia memandang ke sandal teplek yang ia kenakan. Begitu lamanya ia memandang sehingga setiap penumpang yang melihatnya seperti sesosok perempuan yang sedang tidur dalam duduk.
Apa yang telah kau lakukan pada hidupmu, Rita. Hidup seperti inikah yang kau maui, atau sebetulnya kau sama tak tahunya seperti banyak orang seperti dirimu dalam menjalani hidup ini, pikirnya.
Rita mengangkat kepalanya. Lama tertunduk memandangi sandal teplek membuat pandangannya sedikit berkunang. Ia menarik udara melalui hidung, menahannya beberapa detik lalu menghembuskannya lebih lama.
Tak bisakah kau bertingkah lebih tenang, Rita. Kau harus menghadapi semuanya dengan berani, pikirnya.
Apakah ibunya akan menerimanya kembali, sesuatu datang dan pergi di pikirannya.
Sejak dari rumah sebelum keberangkatan, Rita berulang kali mondar-mandir di ruang rumah yang sudah ia tempati selama tiga tahun tinggal di Batam.
Rita sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus mengambil keputusan dengan berani. Apa pun resiko di depan nantinya. Dan bagi Rita itu bukannya keputusan yang mudah. Ia sudah memikirkan hal ini berbulan-bulan sebelum kepulangannya ke Selatpanjang. Tarik ulur pikiran antara kembali dan menetap saja di sana hidup bersama Idris sempat mengisi hari-harinya. Sampai pada satu titik, Rita merasa ia harus kembali, melihat ibunya, memperlihatkan Idris pada ibunya, meskipun bagaimana pun nantinya tanggapan ibunya pada dirinya, pada Idris. Tak mau dihanyut kebimbangan yang berlarut, ia memutuskan segera membeli tiket kapal pulang ke Selatpanjang pada hari yang sudah ia tetapkan. Dengan begitu, apabila kebimbangan kembali masuk ke kepalanya, paling tidak Rita sudah mantap memutuskan pulang karena tiket sudah di tangan.
Hari ini Rita memutuskan untuk pulang ke Selatpanjang. Setelah tiga tahun tinggal di Batam untuk bekerja. Saat itu rasa-rasanya keberuntunganya untuk tetap terus tinggal di Selatpanjang tak kunjung hadir.
Setamat SMA di Selatpanjang Rita sempat bekerja sebentar di pabrik pembuatan kue semprong. Tapi, karena pabrik itu hanya mencari pekerja lebih, terutama perempuan, untuk hari-hari besar saja seperti idul fitri, imlek atau natal. Setelah selesai momen hari keagamaan itu, ia kembali menganggur.
Sebagian dari teman sekelasnya memutuskan untuk kuliah di Pekanbaru. Terutama para laki-laki dan perempuan dengan keuangan lebih. Kecuali bukan dari keluarga yang cukup mampu, sebagian besar dari mereka akhirnya berakhir, di beberapa toko-toko pakaian, pemanggul beras di Pelabuhan, merantau ke Batam, toko bahan bangunan, penjaja konter ponsel, menunggu lamaran laki-laki untuk membiayai hidup mereka, atau bahkan bekerja musiman seperti Rita di pabrik kue semporong.
Indah, teman sekelasnya yang beruntung bisa kuliah itu, selepas pengumuman kelulusan SMA mereka, mengajaknya menepi dari hiruk pikuk perayaan kelulusan angkatan mereka. Cat pilox menyapu rata baju putih-abu-abu para siswa yang merasa harus melakukan itu sebagai bentuk lepas dari cengkreman sekolah.
“Kau kemana setelah ini, Rit? Sudah ambil keputusan?” kata Indah. Pakaiannya bersih dari corat-coret pilox.
“Apa ya…jujur sebetulnya aku tak tahu rencana kedepan. Sepertinya bekerja,” jawab Rita.
“Sayang sekali, Rit. Apa tidak mau coba lembaga yang dulu sempat masuk ke kelas kita itu yang nawarin kelas kuliah dengan jaminan kerja.”
“Kan tetap butuh uang, ya. Masalahnya kan disitu,” Rita diam sejenak. “Kau akan kuliah dimana?”
“Mungkin di Jogja. Menurut abangku biaya kuliah di sana cukup terjangkau. Orang tuaku minta aku kuliah. Kata mereka, jadi guru saja seperti mereka. Hidup cukup terjamin. Tidak akan kaya raya memang, tapi menurut mereka hidup pasti terjamin.”
Beruntungnya menjadi Indah, pikir Rita. Besar di keluarga guru, yang berkecukupan. Masa depannya seolah sudah tergambar jelas. Secara akademis nilai pelajarannya di sekolah termasuk bagus. Tak akan sulit baginya masuk ke kampus-kampus terbaik di Jogja. Jika terbaik itu tak menerimanya, setidaknya ada kampus dengan level sedikit berbeda dari itu yang siap menerimanya jika ia punya uang.
Pada saat seperti itu Rita merasa hidup yang ia Jalani tak adil. Kenapa seseorang bisa kuliah di saat yang sama seseorang tak bisa kuliah. Kenapa orang-orang tertentu, seperti Indah, hidupnya terasa tak punya hambatan berarti, segala sesuatunya tercukupi.
“Jogja menarik, Rit,” lanjut Indah, “setiap dari kita selalu berharap bisa pergi sejauh mungkin dari rumahnya saat ini selagi masih muda, mereguk pengalaman hidup sebanyak-banyaknya dari tempat yang berbeda dan kembali dengan membawa sesuatu yang membanggakan.”
“Atau yang memalukan,” kata Rita asal sembari tertawa.
Di rumah Selatpanjang, Rita tinggal bersama ibu, dua kakak perempuan. Dengan kakak pertama berjarak empat tahun dan kakak kedua dua tahun.
Bapak sendiri meninggalkan rumah ketika Rita duduk di bangku kelas satu SMP. Ia pamit pergi bekerja di Pulau Natuna, tapi setelah itu tak pernah kembali lagi. Rita pernah bertanya kepada ibunya kenapa bapak tak pulang ketika lebaran seperti bapak teman-temannya yang bekerja di tempat jauh.
“Bapakmu ditelan ikan paus ketika sedang di dalam kapal sehingga ia tak lagi bisa pulang,” kata ibu. Ketika mengatakan itu, Rita tak melihat wajah ibu sedih seperti sebagaimana orang-orang sedih melihat orang yang ia kasihi tertimpa musibah. Rita tak tahu sebabnya. Persoalan orang dewasa belum ia pahami benar.
Tapi Rita memperhatikan ibu sering melamun waktu itu. Dan tak lama kemudian ia mulai bekerja sebagai buruh cuci gosok di beberapa rumah untuk membiayai sekolah dan hidup mereka. Dari kakak keduanya yang selalu suka berbagi cerita kepadanya, Rita tahu sebuah kebenaran, tak seperti kakak pertamanya yang cenderung menganggap mereka—adik-adiknya tak perlu tahu persoalan-persoalan orang dewasa.
“Bapak punya istri dan anak di Natuna,” begitu kakak kedua berbagi cerita, “itulah kenapa ia tak pernah kembali.”
“Bukannya di sini ia juga punya anak dan istri?”
“Betul. Tapi ibu tidak mau dimadu,” balas kakak kedua.
Waktu itu Rita tak tahu apa artinya dimadu. Tapi Rita tak bertanya lebih jauh. Ia mengartikan itu sesuatu yang gawat sehingga ibu tegas menolaknya dan tak pernah menyinggung soal bapak di rumah.
Kakak pertamanya, yang melihat ibu harus kerja ekstra untuk menghidupi mereka sempat mengutarakan keinginan berhenti sekolah. Ibu mendelik menatap. Ibu tak suka anak-anaknya berhenti sekolah.
“Aku masih sekuat banteng. Tugasku mencari uang, tugas kalian adalah sekolah sebaik mungkin,” katanya waktu itu. Kakak pertama menurut. Ia tak mungkin lagi membantah perkataan ibunya. Saat itu ia memang sudah duduk di kelas 2 SMA. Setahun lagi akan berhasil menyelesaikan pendidikan terakhir SMA nya.
Begitu tamat SMA, kakak pertama langsung memutuskan bekerja di satu toko pakaian pria dan wanita di kota. Ialah yang membantu ibu menghidupi keluarga mereka. Dan sikap tegas dan kerasnya kepada adik-adiknya, menurutnya didasarkan agar adik-adiknya tak menyia-nyiakan hidup. Dari cerita kakak kedua, dialah yang paling terpukul ketika bapak pergi.
Waktu itu Rita dan adik laki-lakinya sudah pergi ke sekolah. Kakak pertama, karena merasa kurang enak badan, memutuskan tak pergi sekolah. Dari dalam kamar, kakak bisa mendengar keributan antara ibu dan bapak. Kakak kedua bahkan sudah tersedu sedan mendengar keributan itu. kakak pertama dengan baik hati memeluk adiknya, menenangkan. Kakak kedua bercerita bahwa, ia tak melihat kakak pertama menangis. Ia tampak tegar sekali. Namun suatu pagi, ketika kakak kedua menunggu bergantian untuk memakai sumur, ia tak mendengar ada guyuran air dari kamar mandi. Lima belas menit berlalu, bila tak lebih cepat ia bisa terlambat ke sekolah, kakak kedua mendekat ke kamar mandi. Ia merapatkan kupingnya ke papan kamar mandi dengan hati-hati. Dari luar kamar mandi, ia mendengar kakak pertama terisak. Ia curiga, kakak pertama selama ini tak ingin tampak lemah di depan adik-adik mereka.
Ketika mengetahui cerita itu, diam-diam Rita mengagumi kakak pertama yang berjiwa besar. Rita tahu kehidupan baru saja dimulai di keluarganya.
Ketika kakak kedua tamat dari SMA ia juga memutuskan langsung bekerja. Ia bekerja di toko kaset. Dari dulu ia memang paling suka musik diantara saudara-saudaranya. Setiap pagi minggu, ia akan memutar musik-musik kesukaannya. Anggun C Sasmi, Nike Ardila, Sheila On 7, Basejam, Ikke Nurjanah, band-band Malaysia. Sehingga ia selalu bersyukur bisa bekerja di tempat yang ia senangi. Bila tak ada pembeli, dengan tekun dan antusias, ia akan memelototi satu per satu sampul kaset dan CD sebelum memutarnya di pemutar VCD player atau tape Sony hitam sebagai penemannya bekerja. Ketika awal bulan tiba, ia akan pulang bersama beberapa kaset album musik yang ia suka dan mengajak Rita mendengarkannya bersama-sama di dalam kamar.
“Kau percaya, musik bisa membantu ingatan kita untuk mengingat waktu yang sudah lewat,” kata kakak kedua. Ia sedang berbaring di ranjang dan kedua matanya terpejam.
“Jika itu artinya adalah mengingat ingatan buruk yang tak ingin aku ingat, aku emoh. Tapi, setiap aku mendengar lagu Sheila on 7 diputar, itu mengingatkanku kepadamu. Karena kau selalu memutarnya,” kata Rita senyum.
“Aku ingat waktu itu kau sering memutar lagu Sheila terus menerus ketika kau patah hati,” kata Rita memancing.
“Dan…” balas kakak keduanya.
“Nah itu, aku yang mendengarnya malah jadi ikut-ikutan sedih kayak kakak,” kata Rita lalu tertawa berbarengan dengan kakak keduanya.
“Setiap aku mendengar lagu ini aku ingat bapak,” dari tape terdengar lagu Kisah Sedih di Hari Minggu dari Koes Plus.
Rita diam saja.
Pada awal kepergian bapak, Rita memang masih bertanya kenapa bapak tidak pulang. Namun, setelah enam bulan berikutnya ia sudah lupa dengan bapak. Ia sibuk sekolah, bermain, bila butuh uang kakak-kakaknya akan dengan ringan tangan memberikan uang dan dilimpahi kasih sayang kakak-kakak perempuannya. Ia juga tak berani lagi bertanya kepada ibu setelah ibu sempat kesal dan memarahinya ketika ia bertanya kemana bapak pergi. Ibu menyesal setelah itu, dan memeluknya.
Sejak saat itu di rumah tak pernah lagi terdengar obrolan tentang bapak. Mereka tak membutuhkan sosok bapak lagi di hidup mereka. Di hidup Rita.
Kesempatan menganggurnya, Rita gunakan untuk lebih banyak membaca novel-novel yang jadi kegemaran sejak sekolah. Entah kenapa, Rita merasa hanyut ke dalam cerita yang sedang ia baca. Ia ikut mengalami seribu macam kehidupan orang di luar sana. Selain kehidupan mereka begitu mengayakan bagi hidupnya sendiri. Rita, misalnya, sangat menyukai Pada Sebuah Kapal karya NH Dini. NH Dini adalah novelis favorit Rita hingga saat ini. ia kerap bercita-cita bisa menulis novel seperti NH Dini.
Kebiasaan membacanya sudah ia mulai sejak sekolah. Di sekolah biasanya Rita membaca di perpustakaan ketika bel keluar main berbunyi. Bila teman-temannya mengajak ke kantin sekolah, Rita dengan halus menolak ajakan itu. Rita memilih melipir pergi ke perpustakaan sekolah. Rita tak perlu memberitahu alasannya kenapa, bukan?
Tak terlalu banyak koleksi novel sebenarnya di perpustakaan. Untuk novel kebanyakan diisi oleh penulis Balai Pustaka. Ketika novel yang ia baca begitu sayang untuk ia lewatkan tanpa sempat menamatkannya hari itu juga, ia akhirnya memutuskan membuat kartu anggota perpustakaan dan mendapatkan nomor anggota 212. Karena sering keluyuran di perpustakaan juga Rita jadi dekat dengan Desi, penjaga perpustakaan. Desi selalu memberitahunya bila ada buku-buku baru yang belum Rita baca. Ia juga memperbolehkan Rita membawa pulang buku yang sedang asyik Rita baca, meskipun saat itu Rita belum membuat kartu pustaka. Menurut Rita, Desi adalah pengertian sejati tentang seorang pembaca buku. Ia suka membaca buku, meskipun ia menyelesaikan pendidikan di jurusan Matematika. Sesuatu yang tak ada hubungannya dengan ilmu kepustakaan.
Uang jajan sekolahnya biasanya juga tak ia habiskan semua. Bila sedang ingin mengincar satu buku, Rita akan menabung setiap hari sampai tabungannya mencapai harga buku yang ia maui. Dengan cara itulah, Rita mengumpulkan koleksi buku-buku miliknya.
Di kota tempat Rita tinggal, tak ada toko buku. Yang ada adalah toko alat tulis yang menjual beberapa buku komik, buku agama, Kalender, foto presiden beserta wakil, buku pelajaran hingga novel-novel terbitan Balai Pustaka yang berderet di sepanjang jalan Merdeka, di tengah kota.
Dari rumahnya yang berada di Jalan Inpres, Rita akan mengayuh sepeda deki berwarna biru di hari-hari yang lengang dan menyenangkan.
Hidup berjalan begitu lambat manakala Rita mengganggur. Ia rasakan hari-harinya berlalu begitu saja. Karena ibu dan dua kakaknya bekerja, di rumah Rita kebagian tugas mengurusi rumah. Ia memasak, mencuci, menyapu sebelum akhirnya berbaring membaca novel-novel miliknya. Ia melakukan itu terus menerus sehingga membuatnya hampir putus asa.
Satu minggu sebelum lebaran, seorang tetangganya, perempuan muda usia baru saja pulang dari Batam. Rita kenal dengannya. Dulu sewaktu Rita masih bersekolah, Rita sesekali melihatnya setiap lebaran pulang ke Selatpanjang. Penampilannya serba wah di mata Rita yang waktu itu belum pernah keluar dari Selatpanjang. Rita berkesimpulan pasti tetangganya sukses di Batam. Kerja apa dia di sana, Rita juga tak tahu pasti. Orang-orang yang merantau, selalu membawa beban di pundak mereka, bahwa ketika mereka pulang ke kampung halaman, berharap akan jadi orang yang sukses. Punya harta, bisa membetulkan rumah orang tua, dan bergaya dalam penampilan. Itulah pengertian sukses bagi orang-orang di kampung Rita.
Suatu pagi ketika Rita sedang berbelanja sayur di kedai Atin, tetangganya menatap Rita dengan tatapan menyelidik.
“Rita, ini betulan kamu?” kata tetangganya, “ah iya, kamu. Aku pangling lho sama kamu. Kamu makin cantik.”
Rita mencium bau parfum yang mencolok ketika tetangganya merangkul tubuhnya.
Rita tak merasa dirinya sendiri cantik, tapi juga tak buruk. Tapi ketika mendengar ada yang memujinya secara langsung ia senang juga. Ia sedikit malu dengan pujian tetangganya itu.
“Kamu kerja apa sekarang?”
“Nganggur, mbak. Kemaren sempat kerja di pabrik semprong, tapi mereka hanya butuh untuk hari-hari tertentu,” kata Rita menjelaskan.
“Aduh, duh. Kamu harus dapat kerja yang layak, Rit. Perempuan dari kampung kita, harus maju-maju. Ikut kerja di Batam mau tidak?”
“Kerja apa, mbak.”
“Nanti aku jelasin. Yang jelas bayarannya layak. Bisa untuk kirim ke kampung dan beli bedakmu selama di sana. Sekarang aku lagi buru-buru. Nanti kita ketemu lagi, ya. Oke ya, daag, Rita.”
Rita memperhatikan tetangganya melangkah keluar dari warung Atin. Celana jeans biru dengan emblem koyak-koyak di depan dengkul dan pahanya terasa melesak menampung daging pahanya. Dari belakang, ketika berjalan, seperti ada dua lonceng yang saling berklenengan.
Setahu Rita si tetangganya dulu tak seberisi sekarang. Bisa dikatakan kurus malah. Hidup makmur? Punya banyak uang bikin ia bisa suntik silicon? Yang jelas, ia jauh berubah dari yang pernah Rita lihat dulu. Tanda-tanda sukses?
Rita sedikit tergiur dengan kata-katanya. kesempatan ini tentu tak akan datang dua kali. Apalagi Rita sudah menunggu lama untuk kembali bisa bekerja layak. Membayangkan apa yang akan bisa ia lakukan dengan uang banyak. Rita berjalan pulang dari warung, dengan satu tangan menenteng sayuran dan kepala dipenuhi segala macam angan-angan.
*
Pulut hitam sudah rita rendam dalam air sejak sepulang dari warung atin. Kelapa sudah ia parut. Gula aren sudah ia beli. Daun pandan juga sudah ia petik dari kebun, semak belukar tepatnya, di belakang rumahnya. Rita akan membuat bubur pulut hitam dengan siraman santan kental di atasnya. Itu makanan yang punya banyak cerita untuknya. Setiap mengingatnya Rita akan senyum senyum sendiri betapa dulu, sewaktu ia berusia 8 tahun, ia begitu terpesona dengan bubur pulut hitam.
Pilut hitam itu memang ia siapkan untuk pencuci mulut setelah makanan utama. Ia berencana memasak daun singkong santan dan nila asam manis.
*
Tetangga perempuannya itu ternyata tak berbohong ketika menawarkan kerja kepada Rita. Dua hari setelah pertemuan di kedai Atin, dia datang menjumpai Rita di rumah. Rita sedang berbaring membaca sebuah novel, ketika ia mendengar ada salam dari luar rumah. Ia membuka pintu dan melihat tetangganya. Rita menawari tetangganya untuk masuk ke dalam rumah. Bicara di dalam rumah, karena tak ada siapa-siapa di dalam rumah selain dirinya. Tapi tetangganya minta bicara di depan pintu saja. Ia bilang kepada Rita ia harus melakukan sesuatu, tapi karena ingat pernah menawarkan pekerjaan kepada Rita, ketika melewati rumah Rita ia langsung membelokkan sepeda motor maticnya.
“Aku sudah ngomong ke tempat kerjaku. Mereka oke, kalau kamu setuju kita berangkat hari ketiga lebaran,” kata si tetangga.
“Kalau boleh tahu kerja apa itu mbak?” tanya Rita.
“Oh iya, ya aku sampai lupa,” kata si tetangga tertawa kecil, “kerja di salon. Ini bukan salon kecil, Rit. Salon besar, dan punya pengujung tetap setiap bulan. Pokoknya aku berani bilang bayarannya lumayan besar.”
Si tetangga berhenti sebentar memperhatikan Rita.
“Bukan maksudku menyombongkan diri samamu lho Rit. Lihat aku sekarang, aku beda banget kan dari aku yang dulu.”
“Iya, mbak.”
“Nah itu secara nggak langsung sejak aku kerja di sana. Gimana, Rit?”
“Harus aku jawab sekarang, mbak?” tanya Rita ragu-ragu.
“Enggak, sih. Kamu boleh mikir-mikir dulu, cuma jangan lama-lama. Ntar keburu diambil sama orang lain. Soal kamu belum pernah bekerja di salon, itu bisa dipelajari sambil jalan, kok. Di sana nanti kamu bakal di training dulu sebelum bisa terjum memegang klien.”
“Oke, mbak. Makasih ya, mbak.”
Rita sedikit tertegun dengan kata kata tetangganya: training, klien. Itu kara kata Inggris yang setahu Rita sangat sulit diucapkan oleh orang orang di kampungnya.
“Ingat, jangan lama-lama mikirnya. Kalau sudah pasti, kasih tahu aku ya.” Si tetangga tersenyum dan berlalu dari rumah Rita.
Membayangkan akan bekerja di sebuah tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, Rita sedikit bersemangat. Pertama ia senang akan segera bekerja. Kedua, ia akan jadi bagian dari orang-orang di kampungnya yang merantau di tempat lain dan akan pulang ketika lebaran tiba. Ah, ia sudah tak sabar untuk mengabari ibu soal pekerjaannya ini.
Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah yang riang.