Pergi dan Kembali

Wahid Irawan
Chapter #2

Bagian kedua

Angin malam terasa menusuk tengkuk. Udara kering musim panas berganti dengan cuaca yang menusuk pada dini hari itu. Gerah dan lembab. Di bawah sebatang pohon sukun seseorang duduk bersila di atas rumput di depan rumah kayu berkolong. Ia berpakaian putih-putih dengan kepala ditutupi serban putih kekuningan karena jarang menyentuh air. Suasana hening. Keheningan itu membuat gesekan daun-daun tua nangka yang rontok di tanah begitu terdengar lirih. Matanya terpejam dan membiarkan kedua telinganya menggantikan peran indra pelihatnya setiap malam selama beberapa harmal hari-hari. Ada asap tipis menguar di sekitarnya, yang keluar dari beberapa bakaran menyan dan beberapa jimat lainnya.

Apa yang dilakukan olehnya itu, tentu saja, tak akan mencolok siapa pun. Jarak antar rumah ke rumah terpaut belasan rumah. Rumah paling ujung, tempat dimana si lelaki duduk bersila dan bertapa selama beberapa hari ini, dengan rumah lainnya butuh satu hisapan rokok untuk menjumpai rumah lainnya. Lokasi ini jadi pilihan karena tak banyak orang-orang yang berplesiran ke sana kecuali hantu-hantu yang berhentayangan. Sebab, tak jauh dari si dukun bertapa berdiri papan-papan nisan komplek pemakaman warga sekitar.

Tunggu dulu. Bila dikatakan tempat ini hanya didatangi oleh hantu-hantu yang bergentayangan rasanya kurang tepat menggambarkan situasi yang sebenarnya. Tempat ini juga didatangi oleh remaja-remaja kampung, ketika malam minggu tiba. Mereka akan berkumpul di satu pendopo di tengah kuburan yang biasanya digunakan oleh tukang gali kubur untuk berteduh atau berleha-leha di siang hari, mengedarkan rokok lintingan dari tangan ke tangan. Rokok itu akan membuat mereka tertawa-tawa lepas demi melihat katakanlah teman mereka yang berusaha menepok nyamuk yang tidak pernah kena. Tak cuma itu, bila malam semakin larut, mereka akan mengoplos minuman, tergantung pada hari itu seberapa banyak duit yang mereka punya, mereka bisa mengoplos bir dengan coca cola, anggur merah dengan Fanta atau apa pun yang bisa mereka dapatkan dari hasil patungan. Kelompok lain, biasanya masih jauh lebih kecil dari remaja itu biasanya akan menyenangkan diri mereka ke dalam plastik yang ditaruh sebuah cairan yang bisa membuat mereka melayang-layang tak berpijak ke bumi. Sekelompok anak-anak ini juga melakukannya di siang hari, waktu di mana teman-teman mereke masuk ke ruang kelas dan mereka masuk ke dunia fantasi. Walhasil tindakan ini membuat mata mereka kosong dan cekung berhari-hari tanpa makan.

Lokasi pekuburan ini juga dijadikan tempat bersenang-senang beberapa muda-mudi yang ingin melampiaskan cinta mereka yang menggebu-gebu. Mereka akan bermain cepat dan berharap tak diketahui oleh warga yang melintasi pemakaman tersebut.

Ada sebuah cerita.

Suatu malam seorang warga yang berjalan kaki harus melewati pekuburan itu untuk memotong waktunya sampai di rumah, mendapati satu semak belukar bergerak-gerak. Demi mengetahui sesuatu bergerak di semak belukar di tengah malam seperti itu, bulu kuduknya sontak meremang. Ia sudah menghitung dalam hati-hati, bersiap-siap akan berlari sekencang yang ia bisa karena cerita yang pernah ia dengar tentang kuntilanak yang menggangu warga yang lewat sehingga yang diganggu lari terbirit-birit dengan celana basah. Ia pernah mendengar cerita itu dan kini ia berpikir akan mengalami hal yang serupa.

Namun, begitu ia akan bersiap lari, ia mendengar sebuah suara dalam ketukan satu-satu dalam tempo yang makin cepat.

Tidak, ini bukan suara kuntilanak atau hantu-hantu lainnya. Ini suara manusia. Ia mendekati arah suara dengan mengendap-ngendap, dan mendapati seorang perempuan dan laki-laki sedang bersama-sama. Si lelaki membelakangi si perempuan yang bertumpu dengan kedua lututnya di tanah. Tak lama kemudian si laki-laki melolong panjang dalam satu hempasan panjang terakhir sebelum ambruk di tubuh si perempuan.

Sejak itu beberapa orang secara diam-diam kembali mendatangi komplek pemakaman itu di malam hari untuk mendapatkan tontonan gratis.

Kembali ke si dukun.

Suasana hening dan menusuk itu pelan-pelan berganti dengan desauan angin yang meniup ke sana ke mari. Puluhan lilin yang mengelilingi si dukun itu bergoyang ke sana-kemari tertiup angin. (Tiba-tiba) ia merasakan tengkuknya berkeringat dan kecepatan angin makin menjadi-jadi hampir membuat padam lilin-lilin itu. Cahaya dari lilin-lilin itu, pelan-pelan menyusut padam satu demi satu. Seperti sebuah kipas angin yang ditaruh di depannya. Ia fokus mengerahkan semedinya kembali. Mulutnya komat-kamit membaca mantra-mantra. Tubuhnya gemetar dan keringat kembali membasahi tengkuk dan dahinya. Mulutnya kembali berkomat-kamit makin cepat. Daun-daun nangka dan pohon sukun beterbangan ke arahnya. Membuat jubah putih-putih yang ia kenakan beterbangan terangkat dari tanah melayang di udara sejenak.

Bau kemenyan terbang di udara di bawa angin.

Semakin kuat ia membaca semakin kuat ia rasakan lambungnya bergejolak. Keringat terus merembeti punggungnya.  

“Enyahlah kau iblis,” katanya sembari meludah ke kiri. “Atau akan kuenyahkan kau.”

Ada bekas darah di rumput saat ia meludah.

Mulutnya makin kencang berkomat-kamit membaca mantra-mantra. Tubuhnya bergetar semakin cepat semakin hebat mantra-mantra ia ucapkan.

Ia merasakan hembusan angin begitu dingin menusuknya disertai daun-daun pohon nangka dan sukun menerpa wajah dan tubuhnya. Padahal cuaca malam itu cerah dan gerah di udara musim kemarau.

Di kejauhan terdengar lolongan anjing menyalak tak berhenti-berhenti. Seperti mengetahui dan melihat kedatangan seorang makhluk dari dunia setan yang hanya bisa dilihat oleh mata hewan itu.

“Enyahlah jalang,” katanya. “Kau pikir bisa merobohkan aku. Cis.”

Lilin di hadapannya telah padam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia membuka kedua matanya. Sebuah benda hitam dengan rambut panjang mengerikan terbang ke arahnya. Wajahnya itu tersenyum. Jelek sekali. memperlihatkan wajahnya yang tak karuan dan berkerut seperti bekas terkena parutan. Wajah itu terus melayang dengan membawa jantungnya ikut serta. Kepala tanpa tubuh. 

“Apa maumu, iblis,” kata si dukun. Kini ia sudah berdiri dan memasang sikap kuda-kuda.

“Jangan ikut campur urusanku,” kata penanggal tersebut.

Kemudian terdengar bunyi sebuah benda menghantam pohon yang berdentum amat keras. Seperti sebuah mesin sinso memotong pohon sehingga jatuh tumbang di pedalaman hutan.

Salak anjing tak berhenti di luar rumah. Panjang dan menyayat membentuk irama yang membuat bulu kuduk berdiri di tengah malam buta.

Suara serangan bahkan terdengar di satu rumah terjauh dari lokasi si dukun bersemedi karena keheningan malam yang mencurigakan.

“Bunyi apa itu, Mak,” kata anak kecil itu kepada ibunya. Anak kecil itu memeluk erat perut ibunya dan membenamkan kepalanya di perut ibunya. Perempuan itu segera masuk ke kamar melihat anaknya yang terkecil, baru berusia satu minggu, tergeletak di kasur dengan perlak mengalasi tubuh kecilnya yang terbalut pakaian dan kedua bantal guling mengapit kedua sisi tubuhnya. (Tiba-tiba) ia menangis keras demi mendengar suara lolongan anjing di luar sana yang menyalak terus menerus membuat bulu kuduk si ibu meremang.

Perempuan itu mengangkat anak kecilnya dan mendekapnya ke dada sembari menggoyang-goyangkan tangannya untuk membuat anaknya diam. Sebelum ia mengangkat kaus yang ia kenakan mengeluarkan satu payudaranya menyodorkan putingnya ke mulut anak kecil itu yang enggan mencaploknya. Ia menggoyang tubuh anak itu di pangkuannya dengan mengeluarkan bisik-bisik halus. “Tenanglah nak, tenanglah. Jangan menangis,” katanya. Pelan-pelan tangisan anak kecil itu reda dengan mulut berkecumik di puting susu ibunya. Tapi, tidak dengan lolongan anjing di luar sana.

Hanya sementara, anak kecil itu kembali gelisah dan menangis. Si perempuan berusaha sebisanya membuatnya diam dengan menimangnya dan kembali menyorongkan susu ke mulut bayi itu. Bayi itu menolaknya dengan tetap meraung-raung menangis.

Suaminya belum pulang karena sibuk menyiapkan strategi kampanye untuk pemenangan Hamid Gorga. Sejak beberapa bulan ini suaminya memang sering tidur di posko pemenangan Hamid Gorga hingga pagi. Sebuah ruko dua lantai yang disulap sebagai kantor Hamid Gorga untuk pertemuan-pertemuan politik dan bendera Partai Demi Rakyat berkibar-kibar di depan ruko tersebut berjejer rapi. Bagi kelompok Hamid Gorga ini masa-masa yang menentukan apakah mereka akan kebagian kuasa di Kabupaten Tembakul yang belum lama lepas dari Kabupaten Terubuk.

Setelah diam sejenak, si perempuan tampak khawatir ketika salak anjing kembali terdengar jelas di luar. Suara itu begitu jelasnya seperti di depan rumahnya. Anaknya yang tertua kembali memegang perut ibunya erat-erat. Si perempuan berusaha menahan-nahan gigil di badannya. Tapi ia penasaran dengan suara lolongan itu karena begitu amat jelasnya di depan rumahnya.

“Suara apa itu, Mak.”

“Diamlah, Bujang,” kata ibunya mencoba menenangkan kedua anaknya.

“Apa ada hantu di luar, Mak,” kata Bujang.

Perempuan itu berjalan ke arah jendela dengan sedikit tertatih karena anaknya yang tertua ikut mengganduli pakaiannya, lalu ia menyibak tirai gorden dengan tangannya. Di luar sana, hanya ada gelap dan gelap. Cahaya dari lilin yang mengelilingi seorang dukun tadi sudah padam dari tadi sejak hembusan angin menerjang tubuhnya. Matanya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak menelentang menghadapi langit-langit. Cahaya bulan tak banyak memberikan terang. Samar-samar ia melihat bekas darah keluar dari mulut orang yang tergeletak itu. Si perempuan tak tahu apakah dukun itu hilang kesadaran atau mati.

Suara lolongan anjing sudah reda sejak ia menyibak tirai. Bulu kuduknya kembali meremang.

Matanya masih mencari-cari apa yang terjadi. Saat ia akan melihat ke sisi di seberang lain (tiba-tiba) sebuah sosok kepala tanpa tubuh dengan rambut kusut masai dan wajah menyeringai mengejutkannya dari kaca jendela membuat tubuh si perempuan ambruk tak sadarkan diri di lantai papan rumah. Kedua anaknya terlempar, yang tak siap melihat ibunya pingsan (tak sadarkan diri). Kedua anak itu menangis kembali. Lewat pintu depan yang terbuka karena angina kencang, kepala tanpa tubuh itu mendekat ke bayi mungil yang tergeletak di lantai. Abangnya, Bujang menangis ketakutan sebelum jatuh tak sadarkan diri. Kepala tanpa tubuh itu membuka mulutnya lebar, serupa paus menelan kapal kemudian mendekat ke si bayi. Bayi mungil dan menangis tak henti-henti. Wajahnya jelek dan giginya tajam serupa gergaji.

*

Si dukun bangun beberapa jam kemudian dengan rasa sakit yang menekan di dadanya dan sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas sekali setelah pertarungan tak terlihat yang tak dimenangkannya malam tadi. Disampingnya, Herman sedang berjongkok yang sedari tadi menggoyang-goyangkan tubuhnya. Herman baru saja pulang dari markas pemenangan Hamid Gorga.

“Kenapa, Mas?” kata Herman setelah si dukun mendusin. “Kenapa tidur di rumput?”

Si dukun tak menjawab pertanyaan Herman. Herman tak meneruskan pertanyaan tololnya. Ia kemudian mengajak si dukun masuk ke rumah sebelum orang-orang melihat mereka.

Di dalam rumah Herman mendapati hal yang tak jauh berbeda. Istrinya tergeletak di lantai. Anak lelaki tertuanya Bujang duduk dan terus menangis memegang baju ibunya. Herman segera melesat ke kamar.

Kosong.

Ia tak menemukan bayinya.

“Bayi saya hilang, mas!” kata Herman panik.

“Pasti setan itu tadi,” kata si dukun.

“Apa yang terjadi, mas. Istri saya sampai pingsan di dalam rumah. Anak saya menangis terus.”

“Penanggal,” kata si dukun. “Setan jahat itu kembali menyerang. Malam sebelumnya aku mampu menghalaunya tapi tidak kejadian tadi malam.”

Herman terdiam mendengar si dukun berkata. Ia merasa tidak enak.

“Bagaimana nasib anak saya, mas?” kata Herman.

“Ayo kita harus cepat sebelum setan itu bertindak lebih jauh.”

“Kemana, Mas.”

“Menemui Pak Hamid Gorga,” kata si dukun.

Herman menghidupkan becak motornya. Mereka berdua bergegas untuk menemui Hamid Gorga di rumah.

“Kenapa setan itu menyerang keluarga saya, Mas,” kata Herman di tengah perjalanan mereka ke rumah Hamid Gorga. Ia takut apa yang ia pikirkan benar kenapa penanggal itu menyerangnya. Tapi ia memutuskan tetap bertanya.  

“Roh itu menyebut-nyebut nama beberapa orang,” kata si dukun jeda sejenak. “Termasuk nama abang dan nama Pak Hamid juga disebut.”

Wajah Herman pucat pasi mendengarnya. Herman tak mampu untuk bercerita sendiri dan ia merasa Hamid Gorga akan lebih leluasa menceritakan kisah yang sebenarnya.

Di depan rumah kediaman Hamid Gorga mereka dipersilakan masuk. Hamid Gorga masih mengenakan baju tidur dan sedang menghadap telur goreng mata sapi dan kopi sebagai sarapan paginya.

“Wah, pagi betul Mas Panut. Ada urusan mendesak sepertinya,” kata Hamid Gorga berbasa-basi. “Ikut sarapan sama saya.”

Kemudian Hamid Gorga meminta pembantunya untuk menyiapkan sarapan untuk dua orang tamunya pagi itu.

Diselingi oleh sarapan pagi, si dukun mengutarakan niatnya datang pagi itu bersama Herman.

“Bapak tahu tentang perempuan bernama Biah?” Si dukun langsung bicara ke pokok persoalan.

Hamid Gorga berhenti mengunyah telur di mulutnya. Ia letakkan sendok dan garpu di piringnya, menyeka mulutnya dengan serbet makan lalu minum air putih di atas meja makan.

“Dari mana mas tahu itu?” kata Hamid Gorga mencoba tenang. Tapi tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

Si dukun kemudian menceritakan pengalaman tadi malam ketika ia sedang bersemedi seperti malam-malam sebelumnya, untuk memenangkan Hamid Gorga duduk sebagai anggota dewan, tiba-tiba sesosok makhluk penanggal menyerangnya.

“Apa lagi yang dikatakan setan itu?” Hamid Gorga penasaran.

“Roh itu menyebut nama beberapa orang,” kata si dukun. “Setan itu mengatakan kalau saya tak usah ikut mencampuri urusannya dengan kalian. Setan itu sepertinya sedang menuntut balas,” kata si dukun.

Hamid Gorga menatap kepada Herman.

“Saya mau kamu mengusir setan itu, mas,” kata Hamid Gorga kepada si dukun. “Saya tak mau keluarga saya diteror seperti sebelumnya. Saya tak mau setan itu meneror warga saya.”

Si dukun hanya mendengarkan cerita dari Hamid Gorga. “Maksudnya sebelum saya tiba disini setan itu sudah menyerang keluarga, Bapak?” kata si dukun.

Hamid Gorga mengangguk.

“Sebenarnya ada hubungan apa anda dengan arwah perempuan itu,” kata si dukun. Herman menatap gugup kepada Hamid Gorga. Dengan wibawa seorang politikus ia menjawab menjawab diplomatis.

“Pekerjaan saya sebagai politisi, pelayan rakyat, membuat saya banyak tak disenangi orang-orang, mas. Tugas saya membantu rakyat sekuat yang saya mampu. Ada banyak yang harus diprioritaskan. Pokoknya mas harus tolong saya untuk mengusir arwah itu. Pemilihan sebentar lagi, saya tak mau fokus saya terbelah karena urusan hantu ini,” kata Hamid Gorga. 

*

Kedatangan si dukun sendiri ke Kabupaten Tembakul pada bulan Mei atas permintaan Hamid Gorga tak lain awalnya adalah sapu jagat untuk memenangkan Hamid Gorga duduk sebagai anggota dewan Kabupaten Tembakul. Hamid Gorga memintanya melakukan hal itu agar mendatangkan kemenangan pada pemilihan di bilik suara nantinya.

Hamid Gorga memintanya untuk melakukan semedi di rumah salah seorang pengikutnya, Herman agar tak terlalu mencolok orang-orang lain yang melihat. Lagi pula ia tak mau dianggap percaya klenik untuk mendatangkan kemenangan lewat jalan perdukunan. Bisa-bisa ia dianggap bukan orang yang relijius dan taat beragama sebagaimana selama ini ia mencitrakan dirinya santun dengan bahasa yang lembut dan selalu membawa dalil-dalil agama. Kalau warga tahu bahwa ia mendatangkan dukun dari Jawa untuk memenangkan pemilihan anggota dewan, ia khawatir orangnya yang sudah memutuskan untuk memilihnya akan berbalik untuk tidak memilihnya.

*

Rumah Herman yang terletak tak jauh di komplek kuburan warga sekitar selalu sepi. Dan di masa-masa kampanye seperti ini setiap laki-laki itu pergi untuk berkumpul bersama tim pemenangan di markas pemenangan Hamid Gorga. Di rumah hanya istri dan kedua anak laki-laki tinggal. Lagi pula yang terpenting rumah itu sedikit jauh dari rumah tetangga.

Herman memang sudah lama ikut kemana pun Hamid Gorga pergi. Bahkan jauh sebelum Hamid Gorga berniat mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Sehari-hari Herman bekerja sebagai tukang becak motor dengan penghasilan tak menentu. Dari obrolan kedai kopi, ia mendapati bahwa jika ia mendukung salah satu calon, dan tentu saja Hamid Gorga, berhasil memenangkan pemilihan ini, kehidupannya juga akan ikut membaik. Bahasa gampangnya menjadi tim sukses. Hamid Gorga tentu saja dengan senang hati membantu Hamid Gorga. Karena selama ini memang ia sering diminta ini-itu oleh Hamid Gorga. Membayangkan dirinya akan ketiban untung seandainya Hamid Gorga berhasil duduk sebagai anggota dewan membuatnya senang. Herman menemani mulai dari kampenye Hamid Gorga dengan becak motornya. Herman bangga membawa berkeliling di tempat tujuan kampanye dengan Hamid Gorga duduk di sebelahnya selagi ia membawa becak motor. Di masa-masa itu juga Herman lebih sering duduk dan jaga di markas pemenangan Hamid Gorga. Ia tak perlu takut tak mendapatkan uang dari menarik becak motor bila ia tak menjalankan becak motornya. Hamid Gorga sudah memberikan uang ganti rugi karena ia tak menarik hari itu. Sebagai gantinya Herman harus siap sedia membawa Hamid Gorga berkampanye dan meyakinkan istri untuk memilikh Hamid Gorga.

*

Satu minggu yang lalu, istri Herman melahirkan anak laki-laki. Sebenarnya berat buatnya untuk meninggalkan istri dan anaknya yang baru saja lahir itu. Beberapa bulan terakhir memang santer terdengar hantu-hantu bergentayangan menggangu setiap rumah yang baru saja melahirkan anak, tapi ia harus memilih untuk datang ke markas pemenangan agar Hamid Gorga bisa duduk sebagai anggota dewan. Kemenangan bagi Hamid Gorga tentu saja kemenangan bagi Herman. Herman sudah bosan menarik becak motor dengan penghasilan tak seberapa.

Selepas kejadian hilangnya bayi Herman yang digondol penanggal, warga memutuskan untuk memasang batang kaktus di depan rumah. Mereka percaya, duri dari kaktus itu akan menakuti penanggal yang berani masuk ke rumah sehingga membuatnya jantungnya meletus oleh duri kaktus tersebut.

*

Rita berdiri tegak mematung selama beberapa detik. Ia coba melangkahkan kaki kanannya untuk mulai berjalan, tapi rasanya berat sekali. Kaki-kaki itu seperti sedang diganduli batu besar. Bukan cuma kakinya yang rasanya sulit untuk melangkah, pikirannya juga memintanya untuk tak melangkah. Jangan menoleh kebelakang, Rita. Rita mengatakan itu kepada dirinya sendiri. Sebab apa yang ada dibelakangnya kini adalah masa yang akan segera berlalu dan tak perlu banyak ia ingat. Atau masa dibelakang itu seperti sebuah keputusan yang mau tidak mau akan mendatanginya, sebagaimana orang-orang dahulu beroleh hal serupa tapi dengan melakukan sebaliknya: mereka menoleh kebelakang.

Keputusan harus diambil, dan ia sudah mengambil keputusan itu dengan segala konsekuensinya. 

Beberapa langkah di depan Rita, seorang perempuan dengan wajah bulat, itu Wa Wati, menelengkan kepalanya kebelakang untuk mencari Rita. Ia sempat menyapu wajahnya dengan tangan, melepeh keringat yang berleleran di wajah. Padahal mereka kurang lebih baru jalan 200 meter.

“Jalanmu lambat sekali. Kita bisa ketinggalan kapal ini.”

Rita kemudian menyusul Wa Wati yang sudah kembali berjalan dengan sering mengaduh.

“Begini kalau sudah tua. Sendi-sendi menjerit semua,” katanya merepet sendiri.

Wa Wati menoleh ke arah Rita yang tak merespon apa-apa. Wa Wati juga tak mengatakan apa-apa lagi, selain soal keluhannya tentang sendi-sendi bagi orang tua di setiap beberapa titik perhentian singkat mereka, karena Wa Wati harus melemaskan kakinya yang pegal-pegal dalam perjalanan menuju pelabuhan Sungai Duku. Rita tak banyak bicara, ia lebih sering diam saja. Atau hanya melemparkan satu kata-kata pendek “ayo” “cepat” selain senyum pendek singkat.   

*

Rita pulang ke kampung halamannya setelah mendengar ibunya sakit.

Beberapa jam sebelumnya, Wa Wati, tetangga Rita di kampung, seorang perempuan dengan muka bulat dan selalu tampak ceria berusaha mencari-cari cara untuk datang ke kota setelah melalui sekian pencarian yang bikin putus asa, karena setiap ia bertanya kepada mahasiswa yang tinggal tak jauh dari kampus tak ada yang tahu Rita tinggal dimana. Tentu saja Wa Wati membawa alamat Rita. Sebuah alamat bahwa Rita kuliah di kampus Marpoyan yang diberikan oleh Biah kepadanya. Dan dengan kepastian itulah Wa Wati berangkat ke kota untuk menyampaikan misinya. Wa Wati belum pernah ke kota sebelumnya, ia menjalani hidup dari lahir hingga saat ini di kampungnya. Perjalanan paling jauh yang pernah ia lakukan adalah menyeberang ke kampung seberang dengan kapal kayu ke kampung suaminya, ketika mereka menikah. Dan ketika harus membawa misi ini untuk menemukan Rita di kota hanya bermodal keyakinan setiap orang yang ia temui nanti akan memberinya petunjuk.

Wa Wati berdiri tak jauh dari seorang penjual es kelapa, dengan tas sandang yang ia kempit di lengan kanannya, isinya tak banyak hanya sepasang pakaian, perawatan muka, peralatan mandi dan beberapa lembar rupiah. Ia hampir putus asa untuk menemukan Rita. Matahari, debu, lokasi yang belum ditemukan adalah paket lengkap kombinasi rasa putus asa.  

Seorang ibu-ibu demi melihat Wa Wati yang bermuka bulat terlihat putus asa dan kecapekan mendekat, “Ibu cari siapa?”

“Saya cari Rita. Ibu kenal dia?” Wa Wati mengulurkan sebuah kertas yang berlipat-lipat karena ia selipkan di bagian belakang celananya yang berisi alamat tempat tinggal Rita kepada si ibu.

“Rita mahasiswa keguruan kan?” kata si perempuan itu memberi sedikit petunjuk. Dandananya berbaju batik safari. Ia tadi sedang berhenti untuk membeli es kelapa.

Si perempuan bermuka bulat dengan satu telunjuknya di bibir tampak berpikir sebentar, sebelum menjawab ya kepada si perempuan itu.

“Wah untung sekali, bu. Saya sudah berkeliling tanya orang tapi tak ada yang mengenal Rita,” katanya kemudian hampir menangis bahagia.

“Ada urusan apa dari kampung kalau saya boleh tahu?” kata si ibu.

“Saya diutus keluarganya untuk kemari. Urusan keluarga bu, yang penting,” kata si perempuan bermuka bulat.

Si ibu yang yang menaiki motor bebek astrea itu kemudian meminta kepada si perempuan bermuka bulat untuk duduk di boncengan belakang.

“Ibumu sudah satu bulan sakit keras. Awalnya ia bersikeras tak ingin aku memberitahumu. Ia takut kalau itu akan mengganggu konsentrasimu di kuliah,” kata si Wa Wati ketika tiba di kamar kos Rita.

Rita tak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam, dan tampak seperti sudah memaklumi bahwa kabar tentang sakit ibunya sudah lebih dulu ia ketahui dari pada kabar yang dibawa oleh tetangganya. Untuk mengetahui kabar tentang ibunya di kampung, Rita rutin menulis surat kepada ibunya setiap dua minggu sekali. Tapi, sudah satu bulan terakhir surat terakhir yang ia kirimkan kepada ibunya tak berbalas. Rita berpikir hal ini pasti terkait dengan beberapa surat menyurat antara ia dan ibunya sebelum surat terakhir dan ibunya jatuh sakit. 

“Kau tak capai kan? Kau bisa istirahat dulu, Wa, Bi selagi aku mengemasi barang-barang. Kita akan pulang sore ini dengan Jelatik,” kata Rita.

Jelatik adalah kapal penumpang dari kayu dengan banyak kamar seukuran tubuh manusia dewasa yang disekat oleh kayu untuk setiap kamar-kamarnya. Kapal jelatik memang melayani perjalanan dari kota tempat Rita sekarang tinggal dengan kampung halamannya.

Si tetangga menggeleng. Sembari Rita mengemas barang-barang yang akan ia bawa, Rita menyuruh tetangga untuk beristirahat lebih dulu sebelum mereka berangkat sore nanti.

Rita memandangi kamarnya agak lama, memberi kesempatan matanya untuk sedikit berlama-lama memandangi setiap sudut dan pojok ruang seluas tak lebih 12 x 8 persegi, yang sudah dua tahun ini ia huni sejak pertama kali ia datang ke kota ini untuk kuliah. Bagaimana dengan Anton? Sebentar lagi ia akan melupakan apa-apa saja yang menarik dari kota ini, yang membuatnya menjelajah seperti seorang flaneur tanpa tujuan, saat pertama kali ia datang ke sini. Itu adalah waktu dimana ia berkenalan dengan Anton, kakak tingkatnya di fakultas keguruan. Rita memasukkan semua barang-barang miliknya ke dalam koper yang ia bawa dulu dari kampung, dan beberapa buku-buku, baik diktat kuliah atau buku-buku bacaan di luar keperluan kuliah yang ia beli dan kumpulkan satu demi satu demi memenuhi dahaganya akan bacaan. Bacaan itu didominasi oleh novel-novel yang memang menjadi favorit Rita. Atau obsesinya sebenarnya? Bukankah ia masuk ke jurusan bahasa Indonesia adalah untuk menulis? Untuk menulis novel-novel yang sudah melayang-layang di kepalanya sejak ia masih remaja di kampung halaman, dan dokumen lainnya ia masukkan ke dalam kardus-kardus yang ia minta ke warung tak jauh dari tempat ia kos. Rita juga membongkar kompor Hook, mempretelinya satu per satu lalu, menuang minyak tanah yang masih tersisa ke tanah, lalu memasukkan benda itu ke kotaknya yang masih tampak bagus, meski sedikit berdebu. Bahan makanan yang belum sempat ia olah, rencananya akan ia serahkan kepada ibu kos.

Rita juga menyerahkan kue semprong yang dikirimkan Biah beberapa bulan sebelumnya.

“Sayang kalau tidak habis, Wa,” kata Rita ketika melihat Wa Wati bangkit dari tidur. 

“Demi tuhan, Rita. Dengan barang sebanyak ini kau berarti tak akan kembali lagi ke kota ini,” kata si tetangga setelah bangun dari tidurnya.

“Tidurmu nyenyak, bibi, Wa?” kata Rita menjawab dengan tersenyum.

“Sangat nyenyak, meski cuma sebentar. Rasanya aku aku mampu memindahkan gunung.Lumayan cuma sedikit panas,” katanya sambil merapikan rambutnya yang berleleran keringat, sambil tertawa sendiri dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan. 

“Kalau begitu mandilah dulu, bi. Sebelum kita berangkat ke pelabuhan,” balas Rita.

Rita menyerahkan kunci kamar kepada ibu kos, yang sangat menyayangkan kepulangan Rita ke kampung halamannya setelah Rita memberitahu alasannya untuk tak lagi tinggal di kos itu. “Ananda sudah ibu anggap seperti anak sendiri. Beritahulah ke sini kalau terjadi apa-apa di sana. Atau pikirkanlah lagi, ananda mungkin bisa mengambil cuti dulu, untuk melihat situasi,” kata ibu kos.

Ibu kos Rita memang seorang guru di sebuah SMA di kota. Sikapnya ini memang selalu ia tujukan kepada mahasiswi yang kos di tempatnya. Ia berperilaku sebagaimana wali kelas bagi murid-muridnya. 

“Baik, bu.”

“Hati-hati ananda di jalan.”

*

Rita meninggalkan kampung halamannya karena satu hal. Dan hal itu juga lah yang kini membuatnya kembali lagi.

Tujuh tahun lalu Rita datang ke kota. Ini pengalaman pertamanya keluar dari kampung halamannya. Umur Rita baru delapan belas tahun, tak berpengalaman tapi selalu punya keberanian. Dan ia ingin segera mungkin lepas dari rumah orang tuanya. Berbekal uang tabungannya bekerja serabutan sejak di kampung halaman, mulai dari penjaga toko pakaian hingga penjaga SPBU. Dengan uang itulah Rita berharap bisa memulai hidup di tempat baru nanti.

Saat mengajukan keinginannya pergi ke kota, orang tua Rita tegas menolak keinginannya ini dan lebih berharap ia tetap di kampung halamannya. Perdebatan mereka berjalan alot dan masing-masing tetap dengan pendirian yang sama-sama kuat. Ayahnya ingin ia tetap disana dan Rita berkeras tak ingin disana.

Alasan keberatan mereka adalah Rita anak perempuan mereka satu-satunya. Mereka menanti Rita setelah usia mereka hampir setengah abad. Si suami empat puluh sembilan tahun dan si istri empat puluh tahun saat mendapatkan Rita. Mereka belum putus asa untuk memiliki anak. Seperti Ibrahim dan Sarah yang memiliki Ishak di usia yang sudah mendekati uzur. Seperti itulah keyakinan mereka bahwa mereka bisa memiliki keturunan dan mereka memang memilikinya setelah lelah dengan upaya yang tak henti-henti mereka lakukan seperti mendatangi orang pintar dan bersemedi di depan pohon beringin.

Satu bulan setelah itu si perempuan mual-mual. Si suami begitu bahagia.

“Tuhan memang selalu menolong, kita,” kata si suami.

“Pertolongan bisa datang dari siapa saja,” balas si perempuan.

Banyak tetangga mereka yang takjub dengan usaha mereka untuk beroleh anak. Sehingga ketika Rita lahir, kunjungan mereka tak hanti-henti bicara soal keras kepalanya mereka bisa beroleh anak. Dan itu mereka sampaikan kepada pasangan-pasangan dibawah mereka yang belum beroleh anak.

Sejak kecil, Rita sudah menampakkan bakat seorang pembantah. Ia membantah setiap perintah orang tua mereka. Setiap bermain bersama teman-temannya, yang mana ia selalu ingin menampilkan dirinya jadi satu-satunya permaisuri diantara para teman-temannya, dan tiba-tiba diganggu oleh suara ibunya ia akan dengan terang-terangan menunjukkan rasa kesal. Kelakuannya ini makin didukung oleh si suami yang begitu memanjakannya. Yang mau tidak mau juga diikuti oleh si perempuan.

Kebengalan Rita ini pada akhirnya menyulitkan mereka berdua. Mereka hanya memiliki Rita, dan tak ada siapa pun kecuali pada Tamaela mereka berharap. Sedangkan usia mereka terus bertambah. Ketika usianya sudah menginjak empat belas tahun ia melihat kedua orang tuanya seperti melihat kakek dan nenek. Ia melihat orang tua teman-temannya yang masih muda-muda. Ia agak sedikit malu mengetahui hal ini dan lebih banyak menyembunyikan soal orangtuanya pada siapa pun. Bahkan pernah sekali waktu ia mengaku sebatang kara di dunia ini setelah dicampakkan oleh orang tuanya di depan pintu sebuah rumah warga. Dan orang yang merawatnya meninggal tak lama kemudian. Begitulah kadang-kadang ia akan bercerita pada siapa pun tentang latar belakangnya.

Cerita itu akhirnya sampai juga ke telinga kedua orang tuanya. Sedih, tentu saja. Si suami memarahi Rita. Mengata-ngatai gadis itu tak punya perasaan. Kata-kata itu segera dibalas Rita tak kalah beraninya.

“Aku tak pernah minta lahir di dunia ini. Kalianlah yang menginginkan,” kata Rita galak.

Sejak usia semuda itu ia sudah menunjukkan bakat pelawan. Dan yang membuat kedua pasangan uzur itu makin tak mengerti, tak sedikit pun Rita menunjukkan tampang cemas atau akan menangis sebagaimana bocah seusianya. Bahkan mereka melihat mata itu penuh kemarahan.

Kedua pasangan itu mengerti Rita membenci mereka. Membenci ketuaan pada diri mereka. Rita ingin orang tua yang muda sehat yang bisa ia pamerkan kepada siapa saja bahwa ia dianugerahi pangeran dan putri dari sebuah kerajaan dan ia adalah putri kecil mereka. Ia merajuk selama beberapa hari dengan tidak pulang ke rumah. Ia menginap di rumah seorang teman. Kedua orang uzur itu karena sudah terlalu lama hidup berdua saja akhirnya mengalah dengan mencari-cari Rita, mengatakan kepada teman-temannya, agar mereka menyampaikan kepada Rita agar ia mau pulang dan mereka akan memberikan apa pun yang Rita mau. Rita akhirnya pulang. Dan itu jadi sebuah pelepasan perasaan yang begitu memalukan dari kedua orang uzur itu kepada anak perempuannya. Mereka menangis sejadi-jadinya, mengelus kepala Rita dan mengatakan agar Rita tak meninggalkan rumah lagi. Mereka meminta maaf kepada anak perempuan itu. Rita hanya diam.

Saat pergi berbelanja ke pasar bersama ibunya, ia juga tak ingin berada terlalu dekat kepada ibunya. Ia akan membuat jarak dua meter dari ibunya berdiri. Seolah-olah ia datang sendiri ke pasar hari itu. Ibunya hanya menatap tak mengerti pada anak perempuan itu. Tak hanya itu setiap acara apa pun yang melibatkan orang tuanya ia akan jauh-jauh dari mereka, berlaku seolah-olah tak mengenal kedua orang tua uzur itu. Begitu pula saat pengambilan rapot kenaikan kelas, begitu malunya Rita dengan kedua orang tuanya, ia nekat mengambil sendiri di saat murid-murid lain membawa ibu atau ayah mereka. Disana ibu guru menjelaskan sedikit soal perkembangan sekolah dan perkembangan anak-anak mereka. Disana Tamaela mendengarkan ocehan ibu guru.

“Rita, mana orang tua mu,” tanya ibu guru.

“Sakit, bu,” kata Rita berbohong.

“Kedua-duanya,” kejar ibu guru.

“Iya, bu.”

“Ibu belum bisa memberikan rapor kepadamu kalau bukan orang tuamu yang mengambilnya.”

“Tapi, bu…”

“Pokoknya rapor kamu ibu tahan dulu. Ini sudah keputusan.”

Hari itu Rita sangat jengkel pada guru tersebut. Dan rasa jengkel kepada kedua orang tuanya semakin berlipat-lipat karenanya. Ia sudah berusaha tak melibatkan kedua orang tuanya, tapi mau tak mau ia harus berurusan dengan mereka.

Lihat selengkapnya