PERGI TAK KEMBALI

Ahmad Mubaroq Alfatkhan
Chapter #1

PROLOG : Malam Itu


"Jangan tinggalkan shalat ya, Nak. Kalau Umi udah nggak ada, siapa lagi yang bakal ngingetin kamu?"

— Pesan terakhir dari Umi, kepada fatkhan pukul 20.49 WIB, 31 Desember 2024.


Langit malam itu tampak biasa. Kota ramai bersiap menyambut tahun baru dengan kembang api dan euforia. Tapi di sudut rumah sakit kami, waktu berjalan lambat, seolah sedang menahan napas.

Aku mendengar pesan itu sambil tersenyum kecil. Tak tahu bahwa itu adalah pesan terakhir. Tak menyangka bahwa kalimat itu akan terus menggema di kepala—berulang-ulang, hingga rasanya menyesakkan dada.

Umi pergi. Tanpa pamit. Tanpa peluk terakhir.

Sejak malam itu, tak ada lagi suara yang membangunkanku untuk subuh. Tak ada aroma masakan Umi yang menyambut pagi. Dan tak ada lagi orang yang bertanya, "Udah shalat belum, Nak?"

Aku pernah berpikir bahwa rumah ini takkan pernah berubah. Bahwa suara-suara yang biasa terdengar setiap hari akan tetap sama sampai tua nanti. Tapi ternyata, yang berubah lebih dulu adalah orang-orang di dalamnya.

Setiap sudut rumah menyimpan gema suara Umi.

Di dapur, tempat beliau sering bernyanyi pelan sambil memasak. Lagu-lagu lawas yang katanya dulu sering diputar di radio waktu beliau masih muda.

Di ruang tamu, tempat beliau biasa duduk menonton sinetron sambil sesekali melirik jam, lalu memanggil,


"Fathan, shalat jangan ditunda-tunda..."


Dan di kamar kecil rumah kami, tempat favorit Umi. Sajadah Umi masih tergulung rapi. Mukena putih bersihnya tergantung seperti biasa. Tapi tak ada yang memakainya lagi. Wangi sabun cuci mukena itu masih terasa, tapi pemiliknya telah kembali ke tempat yang lebih damai.

Pagi hari berubah jadi waktu yang paling aku benci.

Karena di pagi hari, ingatan tentang kehadiran Umi paling kuat.

Dan rasa kehilangan paling menyiksa.

Dulu, aku bangun karena suara Umi.

Sekarang, aku bangun karena diam.

Dan diam itulah yang membuat air mata jatuh tanpa izin.

Kadang yang paling aku rindukan... justru adalah marahnya Umi.

Bukan marah yang meledak-ledak, tapi teguran tajam penuh perhatian. Marahnya bukan karena benci, tapi karena sayang. Umi bisa membentakku karena aku belum shalat, tapi lima menit kemudian, beliau masuk kamar sambil menyodorkan sepiring roti bakar hangat, bilang,


Lihat selengkapnya