Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #3

Part #3

Tidak Ada Cinta Karena Perjodohan

Hawa dingin makin menyelimuti setiap sesak rerimbunan dedaunan pepohonan membisu berdiri tegak terbungkus kabut malam. Deretan pohonan tinggi berjajar kiri kanan berlatarbelakang lereng perbukitan, dengan di tengahnya jalan sudah di beton kokoh sebagai moda transportasi warga perkampungan melakukan aktivitas sehari-hari.

Malam makin larut bercampur hawa dingin sejuk, makin membungkus lelapnya setiap Insan pemilik napas yang masih ada di dunia ini terlelapnya masih dalam impian tidurnya indahnya.

Sinar rembulan indah, dengan sang rembulan sabitnya di dayang-dayangi oleh segelintiran awan hitam menari-nari di hadapannya. Tapi malam itu sayangnya sahabat setia rembulan tidak bermunculan, yaitu jutaan kedipan nakal mata bintang seperti tidak nampak.

Deretan rumah panggung adat Minang, seakan terdiam ikut lelap dalam tidur mendekap hangat pemilik rumah makin terlindung dalam kehangatan. Hanya lampu pelita kecil dengan sorot sinar cahayanya masih setia menerangi selasar halaman setiap rumah.

Dari kejauhan mata memandang bak kunang-kunang terbang sesaat berdiri melihat dari kejauhan cahaya pelita di setiap rumah. "Gua ngak tahu sampai kapan budaya perjodohan itu masih ada?" guman Firdaus bediri di tebing bukit ruat wajahnya perhatikan hamparan lereng perbukitan beratap langit gelap bersinar rembulan indah.

"Ya, adat istiadat itu sudah ada sejak turun temurun. Bah'kan sejak kita berdua belum lahir. Adat istiadat itu tetap akan ada, selagi adat istiadat itu masih kita jaga, Fir. Karena adat itu sudah jadi budaya kita, apa salahnya kita harus menjaganya. Lagian loe kenapa juga sih? Kan' Soleha ngak jelek-jelek bangat. Soleha cantik, lebih cantik dari Tidar, gebetan gua. Perjodohan loe sama Soleha'kan berawal dari kedatangan Amak Naida nemuin Amak Upit, Amak loe, Fir. Makanya perjodohan itu terjadi. Udeh deh loe terima aja, Soleha. Lagian'kan pilihan Amak loe pastinya benar, Amak loe juga milih Soleha bakalan jadi calon istri loe, ngak gampang-gampang bangat. Amak loe pasti udah mikir-mikir dulu sebelum ngambil keputusan mau terima Soleha buat jadi istri loe" namanya Topik kalau bertanya ngak cukup sekali buat nasehatin Firdaus rada gerah nyimak ocehannya.

Hawa makin dingin, terpaksa kain sarung yang tadi habis di Sholat, sekarang kain sarungnya malahan di keredongin kewajah dan seluruh tubuh mereka berdua sambil terduduk buat nahan hawa dingin. Untung saja malam itu Topik dan Firdaus pakai celana dan baju kokoh panjang, tapi beda warna dan corak saja.

Lihat selengkapnya