Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #4

Part #4

Maresek

Maresek, Adat Minang yang sampai saat ini masih di pertahankan dan masih tetap ada di lakukan dalam proses tahapan untuk melaksanakan pernikahan Adat Minang. Maresek adalah tahapan pertama pernikahan, di mana keluarga perempuan akan mendatangi pihak keluarga laki-laki. Pihak perempuan yang berpengalaman akan mencari tahu apakah calon laki-laki cocok dengan calon perempuannya.

Itulah yang bikin nelangsa tatapan Amak Nadia, adik kandungnya Abah Sundu. Dimana Amak Nadia berapa bulan lalu mendatangi kediaman rumah Amak Upit, betapa cocok dan bahagianya ketika kedatangan Amak Nadia di sambut baik Amak Upit. Rencana untuk menjodohkan Soleha dengan Firdaus, dengan adat Maresek sudah di sepakati merek berdua. Yang saat itu Amak Upit menerima buah tangan seperangkat emas lengkap sebagai tanda di terimanya Soleha sebagai bakal calon menantunya, yang di titip pesankan dari Abah Sundu, pada Amak Nadia.

Hanya terduduk terdiam tatapan nelangsa penuh kesedihan tetapi tidak tersirat ada rasa marah dan kecewa dari wajah Amak Nadia sudah datang jauh-jauh langsung dari Jakarta. Gaya berpakaiannya cukup modern, yang siang itu mengenakan jumpsuit lengkap dengan hijab biru tuanya. "Mungkin hanya menunggu waktu saja" beranjak bangun Amak Nadia dua matanya menatap indahnya lereng perbukitan beratap langit siang cerah.

"Terima kasih, Dik Nadia kamu sudah mau peduli datang jauh-jauh dari Jakarta" tersenyum tidak tersirat rasa kecewa dari wajah Abah Sundu beranjak bangun lalu berdiri di samping Amak Nadia. "Walau gimanapun juga Soleha keponakanku, Kak. Dan saat acara Maresek, aku juga yang mendatangi Kak Upit untuk memperbolehkan Firdaus kita jodohkan dengan Soleha. Tapi jika keadaannya seperti saat ini, kita tidak boleh merasa kecewa. Saya yakin, Kak. Pasti nantinya mereka berdua akan jadi menikah dan duduk di pelaminan" makin bijaksananya Amak Nadia menasehati Abah Sundu, Kakaknya makin tersenyum perhatikan lereng perbukitan hijau indah ada di hadapannya.

"Assalam' mualaikum ..." sudah berdiri lelaki mudah berkumis lengkap dengan seragam orange, bersepatu hitam dan bertopi logo burung merpati pos siap terbang bebas mengelilingi dunia. Berdiri persis di depan atas undakan anak tangga, saat kaki kanannya akan mengajak naik sudah keburu keluar Amak Upit. "Waalaikum' salam" sahut salam cepat dua kaki Amak Upit turuni undakan anak tangga.

Lihat selengkapnya