Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #5

Part #5

Bukan Karena Uang

"Singkir'kan patok-patok itu dari perkebunan ini!" dengan raut wajah meradang sambil telunjuk jari tangannya Amak Upit menunjuk Arfan hanya menjebehnya seraya tidak peduli. "Sudahlah Mak, jual saja perkebunan kopi ini. Lagian'kan Amak tidak perlu repot lagi dan capek-capek mengurusnya. Pastinya perkebunan kopi ini akan di bayar mahal dan Amak akan banyak punya uang nantinya" makin berani dan kurang ajarnya Arfan menyarankan pada Amak Upit agar menjual perkebunan kopi miliknya.

"Hidup bahagia dan senang itu bukan karena banyak uang. Tapi hati ini?! Bagaimana kita menyikapinya. Kalau banyak uang, tapi hati tidak bahagia. Percuma saja punya uang banyak" sahut kesal Amak Upit sambil dua tangannya mencabut berapa patok kayu yang tentu saja Arfan makin menunjukan wajah sinis.

Para pekerja yang kebanyakan warga sekitar sesaat hanya terdiam saja, tapi dua tangan mereka sibuk bekerja tapi dua matanya memperhatikan perdebatan Amak Upit dan Arfan makin memaksa saja. Perkebunan kopi milik Amak Upit salah satu perkebunan terluas di daerahnya, banyak para pekerja yang menggantungkan hidup mereka dari perkebunan kopi tersebut.

"Lihat mereka, jika perkebunan kopi ini di jual. Tentunya tidak adalagi andalan mereka untuk menghidupi keluarganya" para pekerja terdiam sesaat ketika bibir Amak Upit terlihat masih mengunyah, tandanya sirih masih di lebur dalam goa mulutnya. Ada rasa prihatin dan ketakutan tersirat jelas di raut wajah para pekerja, bila Amak Upit sampai jadi menjual perkebunan kopi miliknya.

"Hati yang bahagia bagiamana, Mak? Amak saja punya anak semata wayang bikin hati Amak tidak bahagia?" sindir Arfan berdiri hadapan dengan Amak Upit menahan marahnya sambil pegang patok kayu, jaga-jaga jika terlontar lagi sindiran menyinggung perasaan hatinya maka patok kayu akan menyerampang Arfan.

"Sudahlah Mak, jual saja perkebunan kopi ini. Pasti Amak akan banyak punya uang" lagi-lagi tangan kanan Amak Upit masih bertahan dari rasanya marah dan patok kayu masih di pegangnya. "Nanti di sini akan di bangun perhotelan. Dan di situ akan di bangun tempat rekreasi. Jadi'kan kampung kita akan jadi ramai dengan tamu dan pendatang, pastinya juga akan menambah pemasukan buat mereka-mereka yang tadi bekerja di perkebunan ini, mereka bisa andil ikut bekerja juga. Gengsi mereka tentu jadi naik dong, Mak. Tidak jadi pekerja yang saban harinya ngurus biji kopi saja" mulutnya terus ngoceh dan dua tangan Arfan sambil menunjuk-nunjuk setiap sudut perkebunan kopi milik Amak Upit yang cukup luas sekali.

Lihat selengkapnya