Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #6

Part #6

Manimang

Menahan sedih dalam hati Amak Upit, air matanya tidak tahan sudah basahi pipinya yang mulai kriput karena menua. Masih lengkap mukenah putih membaluti seluruh relung tubuhnya, masih terduduk setulus niatnya beralas sazadah, tetapi wajahnya seakan ingin mengajak menoleh kearah pintu terbuka. Sudah siap-siap Firdaus akan berangkat keMasjid, tunaikan Sholat Magrib karena panggilan suara Adzan masih terdengar menggema memanggilnya.

Tidak ingin beranjak bangunnya Amak Upit masih terduduk beralas sazadah, hanya tatapan wajahnya masih terus menoleh pintu sudah tertutup setelah Firdaus keluar. Berusaha tegar dalam menghadapi hidupnya, Amak Upit perlahan beranjak bangun sambil melepit sazadah kesayanganya, di mana menjadikan dirinya mengadu padaNya dengan beralaskan sazadah.

Dua mata merona berkaca memerah mengintip dari balik tirai jendela, di luar Firdaus sudah di jemput sahabat setianya, Topik segera berjalan meninggalkan selasar halaman rumah. "Amak terpaksa dengan rasa malu menunda acara Manimang. Padahal Amak ingin sekali keluarga Soleha segera datang. Tapi Amak tidak mau memaksakan kamu, Fir" sedih mengalah hati perasaan Amak Upit, seorang wanita tua renta yang pernah melahirkan Firdaus, harus mengalahkan perasaan keegoisannya demi anaknya.

"Artinya loe menolak dong kalau nanti keluarganya Soleha datang untuk Manimang, loe Fir?" berjalan di sinari rembulan malam dua pasang kaki hanya terdengar pertanyaan terucap dari bibir Topik, tapi tidak lantas di jawab Firdaus. "Lama-lama bukan Amak loe aja yang jengkel sama loe, Fir. Tapi gua juga lama-lama dongkol sama loe juga! Kalau di tanya cuman diam doang!" makin kesal Topik cuman di cuekin Firdaus berjalan, malam itu memakai sarung dan baju kokoh biru mudah lengkap dengan peci hitamnya.

"Eeh ... ehh ... Perjaka Magrib baru keluar? Keluarnya kalau beduk Magrib aja" sindir Arfan menghadang jalan Topik dan Firdaus. "Dari pada loe, Ar. Keluarnya kalau dengar ada orang yang mau jual tanah atau rumah doang!" balik sindir Topik bela bangat sama Firdaus tidak mau nimpalin Arfan malam itu seakan merasa jengkel bangat sama Amak Upit.

"Heh Perjaka Magrib! Kasih tahu sama Amak loe tuh yang udah ujur, sebentar lagi mati! Jual aja tuh perkebunan kopinya! Lagian Amak loe'kan udah tua, ngak mungkin ngurusin perkebunanya yang luas bangat. Dan loe, Perjaka Magrib mana mau jadi petani" "Prug" sindiran Arfan makin bikin marah tidak tahannya kepalan tangan kanan Firdaus memberikan hadiah bogeman mentah kearah pipi kanannya Arfan mundur menahan sakit.

Lihat selengkapnya