Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #7

Part #7

Kesedihan Amak Upit Makin Menjadi

"Kuruyuk ... " pagi hari telah datang di sambut seruan panggilan suara ayam jantan berkokok tidak panjang karena masih terbelengu kantuk hawa dingin. Tetesan sisa pembiasan kabut menjadi kristal embun, semakin membuat kesejukan relung hati di setiap ranting pohon yang menjalar kesuruh dedaunan menyambut bahagia.

Kepakan sayap burung tidak hentinya terus mengepak terbang, segitu riangnya ikut menyambut kedatangan pagi. Beratap langit cerah dengan awan putih tidak malu-malu lagi menyambut datangnya sinar surya pagi menyinari semesta semakin terlihat indahnya tiada tara masih terbungkus kabut putih.

Hanya menahan kesabaran tersirat di raut wajah Amak Upit, tidak tahu sampai kapan dirinya harus berusaha sberabar dengan tingkah dan sikap Firdaus, anak tunggalnya yang telah di jodohkan dengan Soleha. Dua tangan cekatan Amak Upit terus mengelap kaca lemari pajangan, tetapi dua matanya terus melirik kearah Firdaus masih terlelap dalam tidur terbaring di atas ranjang tertutup tirai kelambu.

Wajahnya semakin tirus mulai makin menua, tapi kesetiaan hati Amak Upit masih tetap setia dengan janjinya, pada Abah Amran, suaminya. Di mana dirinya harus tetap berhijab sampai hari ini, sesuai amat pesan Abah Amran. Karena surga seorang istri adalah mau menjalani nasehati suaminya, terdiam berdiri sesaat Amak Upit dirinya berkaca pada kaca lemari pajangan.

Tampak tidak terlalu jelas wajah tuanya terlihat, tetapi makin jelas terlihat hijap putih yang di pakainya terlihat di kaca lemari pajangan berkaca putih polos. "Amak akan selalu jadi istri yang terbaik buat, Abah. Amak akan selalu ingat pesan Abah" tersenyum tetapi di sertai kesedihan terlihat pada kedua mata kecil dengan lingkaran dua matanya mulai keriput.

Lagi-lagi dua matanya melirik kearah Firdaus masih terlelap tidur, yang mungkin saja masih bermimpi indah. Harapan Amak Upit dalam mimpi tidurnya Firdaus, berharap sedang membahagiakan apa yang menjadi harapan terbaiknya dirinya sebagai seorang Amak, yang telah melahirkan dan membesarkannya. "Amak mau kamu bisa jadi anak berbakti dan menuruti apa kata, Amak" makin sedih berkaca merona dua mata Amak Upit tidak sengaja tangan kirinya menyentuh dompet tergeletak di sela sudut meja.

Lihat selengkapnya