Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #8

Part #8

Makin Berhutang Budi

"Kedatangan saya tidak sedang menangih janji kapan Manimang akan di laksanakan, Mak. Kedatangan saya hanya membawa pesan dari Pak Hasan, pemilik Yayasan Nur Islami. Bila tidak keberatan Firdaus di mata mengajar di sekolahnya. Karena'kan sayang sekali sejak kepulangan Firdaus dari jakarta, Firdaus tidak mengajar lagi" mulai sedikit lega perasaan Amak Upit dengan jawaban kedatangan Abah Sundu, yang kedatangannya tidak sedang membicarakan masalah perjodohan.

"Oh begitu" makin tersenyum dan makin lega hatinya Amak Upit. "Masalah mau dan tidaknya Fitdaus. Saya nanti akan bicarakan dan berithaukan pada Firdaus dulu" jawab lagi Amak Upit melirik lagi kesisi kiri kamar pintu memang terbuka sedikit, pas bangat dua matanya Firdaus melihat Amak Upit sepertinya tahu. Cepat pelan-pelan pintu di tutup lagi dari dalam sempat di lihat Abah Sundu.

"Itu jika Firdaus tidak keberatan, karena Yayasan Nur Islami, saat ini masih kekurangan tenaga pengajar. Mungkin gajinya tidak terlalu besar, Mak. Tapi paling tidak, apa salah Firdaus mencoba, bila dirinya mengajar dulu. Ya, barang sehari atau berapa hari saja mencobanya" tutur Abah Sundu tersenyum perhatikan raut wajah Amak Upit makin tidak enak hatinya.

"Bang, maaf pastinya saya juga tahu kedatangan Abang bukan hanya ingin menyampai'kan pesan Pak Hasan saja'kan?" makin tidak enak hatinya Amak Upit mulai sadar diri. Sedikit menghela napas Abah Sundu terdiam mulai terpancing ingin membicarakan masalah perjodohan Soleha dengan Firdaus.

"Mak, masalah perjodohan ini mungkin sudah terlanjur dan jadi buah bibir banyak warga sini. Tapi saya mengerti dengan sikap Firdaus, saya tidak bisa memaksakan hatinya Firdaus juga. Ya, walau harapan kita berdua sebagai orang tua mungkin sama ingin sekali Soleha bisa bersanding dengan Firdaus. Tapi semua itu, Mak. Kita tidak bisa memaksa dan melangkahi KehendakNya Allah" berusaha tetap tersenyum Abah Sundu, walau hatinya ingin sekali cepat menikahkan Soleha dengan Firdaus.

"Saya mengerti, Bang. Saya hanya minta waktu saja, pastinya saya juga ingin sekali anak-anak kita bisa cepat segera menikah. Saya sudah yakin menerima Soleha" merasa tidak enak hati tetapi ada keyakinan tersirat di raut wajahnya Amak Upit, bikin tersenyum Abah Sundu.

Lihat selengkapnya